Kisah Rikky Ihza Pratama Mengawal Keamanan Digital, dari Jember Hingga Diakui NASA dan UNESCO

by -29 Views
Wartawan: Nur Imatus Safitri
Foto : Rikky Ihza Pratama saat bekerja sebagai Softeare Quality Assurance (QA) di salah satu perusahaan teknologi.
aston banyuwangi

Banyuwangi, seblang.com – Banyak yang beranggapan bahwa untuk menembus industri teknologi global, seseorang harus berasal dari kota besar. Namun, Rikky Ihza Pratama mampu menepis anggapan tersebut. Pemuda asal Ambulu, Jember, ini telah membuktikan bahwa dedikasi dan kemauan belajar bisa membawa talenta daerah berkontribusi di kancah internasional.

Saat ini, Rikky bekerja sebagai Software Quality Assurance (QA) di salah satu perusahaan teknologi. Perjalanan akademisnya dimulai di kota kelahirannya dengan menyelesaikan pendidikan D4 Teknik Informatika di Politeknik Negeri Jember (Polije), yang kemudian ia lanjutkan ke jenjang Magister Manajemen Sistem Informasi di BINUS University.

Di luar pekerjaan utamanya, ia juga menelusuri ruang-ruang kompleks di dunia cybersecurity, khususnya dalam bidang pelaporan celah keamanan secara etis (responsible vulnerability disclosure).

Ketertarikan Rikky pada dunia teknologi bermula dari sebuah pemahaman yang terus berkembang. Awalnya, ia mengira dunia IT selalu identik dengan programmer yang bergelut dengan barisan kode. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa membangun aplikasi yang baik tidak semata-mata tentang menciptakan fitur. Memastikan fitur tersebut berjalan sempurna di tangan pengguna adalah hal yang paling utama.

Rikky menganalogikan profesi QA layaknya sebuah proses pembangunan rumah. Developer adalah pihak yang membangun rumah tersebut, sementara QA adalah sosok yang memastikan rumah itu aman, nyaman, pintunya berfungsi, listriknya menyala, dan atapnya tidak bocor sebelum diserahkan kepada pemiliknya.

“QA memastikan aplikasi sesuai kebutuhan bisnis, mudah digunakan, stabil, aman, dan memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna. Jadi, singkatnya kami menjaga kualitas sebuah produk, bukan sekadar mencari kesalahan,” jelas Rikky saat dikonfirmasi di rumahnya, Kamis (30/6/2026).

Tugas ini tentu krusial. Rikky pernah menemukan bug kritis pada proses utama sebuah aplikasi tepat sebelum perilisan. Alih-alih membiarkannya lolos, ia segera berdiskusi dengan tim developer dan menunda peluncuran demi memperbaiki masalah tersebut.

Ia sadar, memperbaiki bug sebelum aplikasi dirilis jauh lebih murah dan aman dibandingkan menangani kekacauan setelah aplikasi digunakan oleh jutaan orang.

Pencapaian Rikky tidak berhenti di meja kantor. Keaktifannya mencari celah keamanan sistem dan melaporkannya secara etis telah membuahkan hasil yang luar biasa. Alih-alih merusak, ia justru membantu banyak organisasi menutup celah rentan tersebut.

Berkat dedikasinya, Rikky telah menerima berbagai apresiasi dari institusi kelas dunia. Namanya tercatat mendapat pengakuan dari NASA, UNESCO, Hall of Fame CERT-EU (Uni Eropa), U.S. Department of Energy, hingga raksasa teknologi NVIDIA.

iklan warung gazebo