Banyuwangi juga memperkuat pelayanan melalui berbagai program pendukung, seperti Satgas Stunting, Rantang Kasih bagi warga rentan, serta layanan Jemput Bola Rawat Warga yang menjangkau masyarakat di wilayah terpencil. Pemerintah daerah juga menyiapkan armada berbasis desa yang dapat difungsikan sebagai ambulans untuk mempercepat akses layanan kesehatan.
Terobosan terbaru yang diperkenalkan adalah Oasis Wangi, layanan konsultasi kesehatan keluarga melalui WhatsApp yang tersedia selama 24 jam. Program yang dikembangkan bersama Noora Health itu memungkinkan masyarakat berkonsultasi langsung dengan tenaga kesehatan secara gratis kapan saja.
“Layanan ini baru diluncurkan Menteri Kesehatan pekan lalu. Warga cukup menggunakan WhatsApp untuk berkonsultasi, dan petugas kesehatan akan memberikan pendampingan selama 24 jam,” tutur Ipuk.
Selain menghadirkan inovasi layanan, Banyuwangi juga melakukan penguatan tata kelola puskesmas dengan pembagian tugas yang lebih terstruktur serta pemberian insentif tambahan bagi tenaga kesehatan guna meningkatkan kualitas pelayanan.
Paparan Ipuk mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus. Menurut Benjamin, meningkatnya aktivitas pelayanan di puskesmas merupakan tanda bahwa pendekatan promotif dan preventif telah berjalan efektif.
“Ketika beban pelayanan di puskesmas meningkat, itu menunjukkan masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan primer. Artinya, upaya pencegahan sudah berjalan dengan baik,” ujar Benjamin.
Leimena Conference merupakan forum kesehatan nasional yang menghadirkan pemangku kepentingan sektor kesehatan dari seluruh Indonesia bersama para pakar kesehatan dunia. Forum ini digelar untuk mengenang jasa Pahlawan Nasional dr. Johannes Leimena, tokoh yang menggagas konsep puskesmas sebagai fondasi pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia.









