“Unik. Penarinya paruh baya, dan sedang kehilangan kesadaran. Sangat tidak lazim, tapi justru ini yang membuat menarik. Saya belum pernah melihat seperti ini di tempat lain,” kata wisatawan asal Hungaria, Gergo Zalatnai.
Pengunjung asal Yogyakarta, Riski, juga mengaku terkesan dengan suasana ritual yang sarat nuansa magis dan kebersamaan warga.
“Terkesan, terasa magisnya. Selain itu saya juga kagum dengan warga di sini yang gotong royong terus menggelar acara ini setiap tahunnya,” ujarnya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyebut Seblang bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan warisan leluhur yang menjadi identitas masyarakat Osing Banyuwangi.
“Tradisi ini bukan sekadar upaya menjaga warisan leluhur, tapi juga memastikan budaya lokal tetap eksis di tengah modernisasi. Ini juga menjadi ajang memperkuat semangat gotong royong dan persaudaraan warga,” kata Ipuk.
Seblang sendiri hanya bisa dijumpai di dua wilayah masyarakat Osing Banyuwangi, yakni Bakungan dan Olehsari. Seblang Bakungan digelar setiap bulan Dzulhijah dengan penari perempuan paruh baya, sedangkan Seblang Olehsari digelar setelah Idul Fitri dan diperankan penari yang masih belia.
Keberadaan Seblang yang tetap lestari hingga kini menjadi bukti kuatnya komitmen masyarakat Osing dalam menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup dari generasi ke generasi. (*)











