Hadapi Puncak Kemarau, Dinas PU Pengairan Banyuwangi Siapkan Pola Distribusi Air Irigasi

by -15 Views
Wartawan: Teguh Prayitno
Editor: Herry W. Sulaksono
Meskipun malam hari, petugas Dinas PU Pengairan Banyuwangi sedang melakukan pengaturan pintu air untuk gilir air secara bergantian agar distribusi air irigasi berjalan adil dan merata
aston banyuwangi
aston banyuwangi

Banyuwangi, seblang.com – Dinas PU Pengairan Kabupaten Banyuwangi mulai menyiapkan pola distribusi air irigasi untuk menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026. Langkah itu dilakukan agar pasokan air ke lahan pertanian tetap terjaga meski debit air diperkirakan mengalami penurunan.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebanyak 20 kecamatan diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026, yakni Giri, Glagah, Banyuwangi, Kabat, Singojuruh, Rogojampi, Srono, Cluring, Muncar, Purwoharjo, Bangorejo, Siliragung, Tegaldlimo, Pesanggaran, Tegalsari, Gambiran, Genteng, Sempu, Glenmore, dan Kalibaru. Sementara itu, empat kecamatan, yakni Songgon, Licin, Kalipuro, dan Wongsorejo, diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada September 2026.

Mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas PU Pengairan Banyuwangi meningkatkan pemantauan debit air di seluruh bendung yang menjadi sumber layanan irigasi. Pemantauan dilakukan secara berkala agar perubahan debit dapat diketahui lebih awal dan menjadi dasar penyusunan langkah antisipasi.

Plt Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi, Cahyanto Hendri Wahyudi, S.E., melalui Kepala Bidang Operasional dan Pemeliharaan, Dedy Koerniawan, S.T., mengatakan pemantauan debit air merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan layanan irigasi selama musim kemarau.

“Melalui pemantauan yang lebih intensif, potensi kekurangan air dapat diketahui lebih awal sehingga penanganannya dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan efektif untuk menjaga layanan irigasi kepada petani,” kata Dedy kepada seblang.com, Jumat (17/7/2026).

Menurutnya, hasil pemantauan tersebut kemudian digunakan untuk memetakan daerah-daerah yang berpotensi mengalami kekeringan. Pemetaan dilakukan agar langkah penanganan dapat disiapkan sebelum kekurangan air berdampak pada areal pertanian.

iklan warung gazebo