Banyuwangi, seblang.com – Dinas PU Pengairan Kabupaten Banyuwangi mulai menyiapkan pola distribusi air irigasi untuk menghadapi puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026. Langkah itu dilakukan agar pasokan air ke lahan pertanian tetap terjaga meski debit air diperkirakan mengalami penurunan.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebanyak 20 kecamatan diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026, yakni Giri, Glagah, Banyuwangi, Kabat, Singojuruh, Rogojampi, Srono, Cluring, Muncar, Purwoharjo, Bangorejo, Siliragung, Tegaldlimo, Pesanggaran, Tegalsari, Gambiran, Genteng, Sempu, Glenmore, dan Kalibaru. Sementara itu, empat kecamatan, yakni Songgon, Licin, Kalipuro, dan Wongsorejo, diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada September 2026.

Mengantisipasi kondisi tersebut, Dinas PU Pengairan Banyuwangi meningkatkan pemantauan debit air di seluruh bendung yang menjadi sumber layanan irigasi. Pemantauan dilakukan secara berkala agar perubahan debit dapat diketahui lebih awal dan menjadi dasar penyusunan langkah antisipasi.

Plt Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi, Cahyanto Hendri Wahyudi, S.E., melalui Kepala Bidang Operasional dan Pemeliharaan, Dedy Koerniawan, S.T., mengatakan pemantauan debit air merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan layanan irigasi selama musim kemarau.
“Melalui pemantauan yang lebih intensif, potensi kekurangan air dapat diketahui lebih awal sehingga penanganannya dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan efektif untuk menjaga layanan irigasi kepada petani,” kata Dedy kepada seblang.com, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, hasil pemantauan tersebut kemudian digunakan untuk memetakan daerah-daerah yang berpotensi mengalami kekeringan. Pemetaan dilakukan agar langkah penanganan dapat disiapkan sebelum kekurangan air berdampak pada areal pertanian.
Data itu selanjutnya menjadi dasar penyusunan Pola Tata Tanam (PTT) dan Rencana Tata Tanam (RTT) bersama Dinas Pertanian dan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA). Dedy menjelaskan, penyusunan PTT dan RTT mengacu pada debit andalan, yaitu rata-rata ketersediaan air selama sepuluh tahun terakhir, sehingga pola tanam dapat disesuaikan dengan kemampuan pasokan air di masing-masing daerah irigasi.
Meski demikian, ia mengakui masih ada petani yang belum mematuhi PTT dan RTT yang telah disepakati. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan air di sejumlah daerah meningkat karena masih ada petani yang menanam komoditas dengan kebutuhan air tinggi pada musim kemarau.
Untuk mengantisipasi hal itu, Dinas PU Pengairan Banyuwangi telah menyiapkan pola distribusi air berdasarkan kondisi debit yang tersedia. Jika debit air masih berada di atas 75 persen dari kebutuhan daerah layanan, distribusi dilakukan secara normal.
Apabila debit turun pada kisaran 50 hingga 75 persen, pembagian air dilakukan secara bergilir antarbox tersier. Ketika debit berada pada kisaran 25 hingga 50 persen, sistem giliran diterapkan antarbangunan sadap. Sementara jika debit turun hingga di bawah 25 persen, pembagian air dilakukan secara bergilir antarbendung dalam satu aliran sungai.
“Kalau petani di wilayah hulu masih bisa menanam padi, petani di wilayah hilir juga harus memiliki kesempatan yang sama. Itu menjadi dasar kami dalam mengatur distribusi air,” ujarnya.
Dedy menegaskan, penerapan sistem gilir air bertujuan menjaga tanaman yang sudah ditanam tetap mendapatkan pasokan air hingga masa panen, bukan untuk melayani pembukaan musim tanam baru.
Selain menyiapkan pola distribusi air, Dinas PU Pengairan Banyuwangi juga mengimbau petani dan pengurus HIPPA agar mematuhi Pola Tata Tanam dan Rencana Tata Tanam yang telah disepakati bersama. Menurut Dedy, kepatuhan terhadap PTT dan RTT akan membuat distribusi air lebih tertib, penggunaan air lebih efisien, mengurangi potensi konflik perebutan air, serta menekan risiko gagal panen saat musim kemarau berlangsung.
‘Musim kemarau tidak bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa diantisipasi. Karena itu, setiap tetes air yang tersedia harus dikelola sebaik mungkin agar manfaatnya dapat dirasakan seluruh petani,” pungkasnya./////////










