Banyuwangi, seblang.com – Kabupaten Banyuwangi bersiap memasuki puncak musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Banyuwangi akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Selain cuaca yang semakin kering, masyarakat juga diminta mewaspadai fenomena bediding, yakni penurunan suhu udara yang cukup ekstrem pada malam hingga pagi hari.
Forecaster BMKG Banyuwangi, Mardani R. Gumintar, S.Tr., menjelaskan fenomena bediding merupakan kondisi alamiah yang lazim terjadi saat musim kemarau, khususnya ketika langit cerah tanpa banyak tutupan awan.
“Pada musim kemarau, panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari akan lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya suhu udara turun cukup signifikan sehingga udara dini hari terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya,” kata Mardani.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut diperkuat oleh dominasi angin timur atau Monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering menuju wilayah Jawa Timur, termasuk Banyuwangi. Kombinasi kedua faktor itu membuat udara malam hingga pagi terasa menusuk tulang, kelembapan udara menurun, serta angin bertiup lebih kencang.
Berdasarkan prediksi BMKG, sebanyak 20 kecamatan diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada Agustus 2026, yakni Giri, Glagah, Banyuwangi, Kabat, Singojuruh, Rogojampi, Srono, Cluring, Muncar, Purwoharjo, Bangorejo, Siliragung, Tegaldlimo, Pesanggaran, Tegalsari, Gambiran, Genteng, Sempu, Glenmore, dan Kalibaru.
Sementara itu, empat kecamatan lainnya diperkirakan mengalami puncak musim kemarau pada September 2026, yakni Songgon, Licin, Kalipuro, dan Wongsorejo.










