Banyuwangi, seblang.com – Kebijakan efisiensi anggaran memaksa banyak instansi menyusun ulang prioritas kerja. Namun, bagi Dinas PU Pengairan Kabupaten Banyuwangi, ada satu hal yang tidak boleh ikut dikurangi, yakni pelayanan irigasi bagi petani.
Sebab, bagi daerah yang mengandalkan sektor pertanian seperti kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa ini, terganggunya jaringan irigasi bukan hanya soal infrastruktur. Dampaknya bisa merembet pada aktivitas tanam hingga produktivitas hasil panen.
Karena itu, Dinas PU Pengairan memilih mencari jalan lain. Bukan dengan mengurangi kualitas operasi dan pemeliharaan, melainkan memperkuat kolaborasi dengan Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA), komunitas peduli sungai seperti Sungai Watch dan Sekardadu, serta masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari pengelolaan irigasi.
Plt Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi, Cahyanto Hendri Wahyudi, S.E., melalui Kepala Bidang Operasional dan Pemeliharaan, Dedy Koerniawan, S.T., menegaskan efisiensi anggaran tidak menjadi alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan kepada petani.
“Keterbatasan anggaran bukanlah alasan bagi kami untuk tidak menjalankan kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi secara optimal. Justru kami lebih mengoptimalkan kolaborasi dengan HIPPA, Komunitas Sungai Watch, Kader Sekardadu, dan masyarakat agar pelayanan tetap berjalan,” kata Dedy kepada Seblang.com, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, kolaborasi tersebut bukan hanya sebatas koordinasi. Semua pihak didorong ikut terlibat ketika terjadi persoalan di lapangan sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Hal itu pernah dibuktikan saat Dam Concrong di Kecamatan Rogojampi mengalami kerusakan. Dampaknya, suplai air menuju areal persawahan di Watukebo, Karangbendo, dan Blimbingsari terganggu.
Dalam kondisi tersebut, Dinas PU Pengairan tidak bekerja sendiri. Bersama HIPPA dan para petani, mereka bergotong royong membangun tangkis darurat agar aliran air kembali masuk ke saluran irigasi.
Langkah cepat itu membuat pasokan air kembali mengalir ke lahan pertanian tanpa harus menunggu proses penanganan yang lebih panjang.
Alhasil, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa keberhasilan menjaga jaringan irigasi tidak semata ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh kuatnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat.
“Semangat kolaborasi seperti inilah yang menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi kami. Dengan memperkuat kemitraan antara pemerintah, petani, dan masyarakat, berbagai tantangan dalam pengelolaan sumber daya air dapat diatasi secara cepat, tepat, dan efisien demi menjaga keberlanjutan layanan irigasi serta mendukung ketahanan pangan di Kabupaten Banyuwangi,” pungkasnya.////////










