Banyuwangi, seblang.com – Gelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) seharusnya menjadi wadah bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pelaku ekonomi kreatif untuk naik kelas, bukan justru menutup peluang mereka memperoleh manfaat dari ajang yang masuk dalam program Kharisma Event Nusantara (KEN), program unggulan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua LSM Macan Putih Banyuwangi, Suparmin, menyikapi surat imbauan penghentian sementara aktivitas berjualan bagi pelaku usaha Banyuwangi Creative Market (BCM), pedagang kaki lima (PKL), pedagang asongan, dan PKL dadakan di kawasan Taman Blambangan Banyuwangi selama rangkaian pelaksanaan BEC 2026.
Menurut Suparmin, pihaknya menyatakan keberatan atas larangan sementara tersebut yang berdampak pada UMKM dan pelaku ekonomi kreatif selama kurang lebih satu pekan. Ia menilai tidak ada dasar hukum yang jelas terkait kebijakan tersebut.

“Yang lebih tidak tepat lagi, masyarakat sekitar Taman Blambangan sudah lama berjualan di sana, bahkan secara turun-temurun. Namun justru mereka dilarang, sementara penyelenggara memberikan fasilitas kepada pedagang baru yang diundang untuk berjualan di lokasi tersebut,” ujar alumnus Fakultas Hukum Universitas Jember itu, Senin (13/7/2026).
Ia juga menyoroti keberadaan komunitas Kuliner Unggulan Masyarakat Banyuwangi Raya (Kumbara) yang mendapat izin berjualan di kawasan tersebut. Menurutnya, kebijakan itu terkesan tidak menghargai masyarakat sekitar Taman Blambangan yang selama ini telah menggantungkan mata pencahariannya di lokasi tersebut.
Lebih lanjut, Suparmin menegaskan pihaknya menolak langkah yang diambil pemerintah. Bahkan, ia menyatakan siap menggelar aksi demonstrasi apabila tidak ada solusi yang berpihak kepada UMKM, pelaku ekonomi kreatif, maupun pedagang asongan yang seharusnya turut merasakan manfaat dari penyelenggaraan BEC yang hanya berlangsung sekali dalam setahun.
Menurutnya, sebelum pelaksanaan BEC, pemerintah seharusnya melibatkan masyarakat sekitar dalam musyawarah guna mencari solusi terbaik.
“Seharusnya masyarakat sekitar diajak bermusyawarah terlebih dahulu. Mereka adalah warga yang tinggal di sekitar Taman Blambangan dan sudah berjualan di sana secara turun-temurun,” katanya.
Ia menambahkan, tidak sedikit pedagang yang telah berjualan di kawasan tersebut selama puluhan tahun, bahkan usaha tersebut telah diwariskan dari orang tua hingga kakek mereka.
“Kami keberatan dan mendukung masyarakat sekitar Taman Blambangan untuk terus memperjuangkan hak mereka agar tidak dipandang sebelah mata oleh pihak-pihak tertentu,” tambah pria berambut putih itu.
Bagi Suparmin, penyelenggaraan BEC semestinya menjadi sarana pemberdayaan UMKM dan pelaku ekonomi kreatif, sekaligus menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah terhadap program UMKM naik kelas yang selama ini disampaikan Bupati Banyuwangi dalam berbagai kesempatan.
“Setelah ada event BEC, UMKM dan pelaku ekonomi kreatif seharusnya diberdayakan agar bisa naik kelas, bukan malah dilarang berjualan. Seharusnya pemerintah memberikan pembinaan, bukan justru mematikan usaha mereka,” pungkas Suparmin.//////////










