RSUD Ngantang Krisis SDM dan Alat Medis, Plt Direktur Minta Intervensi Cepat Bupati Malang

by -28 Views
Wartawan: Ahmad Suseno
Editor: Herry W. Sulaksono
Plt Direktur RSUD Ngantang Kabupaten Malang, Dr.dr. Henri Sulistianto, Sp.OG
aston banyuwangi
aston banyuwangi

Malang, seblang.com – Kondisi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngantang, Kabupaten Malang, dinilai masih jauh dari standar pelayanan kesehatan. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Ngantang, dr. Henri Sulistianto, Sp.OG, mengungkapkan bahwa rumah sakit tersebut mengalami kekurangan serius di hampir semua aspek, mulai dari sumber daya manusia (SDM), peralatan medis, hingga sarana dan prasarana.

Pernyataan itu disampaikan usai kunjungan Bupati Malang, HM Sanusi, ke RSUD Ngantang pada Senin (4/5/2026). Dalam kesempatan tersebut, Henri berharap kunjungan kepala daerah dapat menjadi titik awal percepatan pemenuhan kebutuhan dasar rumah sakit.

“Masih sangat kekurangan dari sisi apa pun. Dari sisi SDM, alat, sarana-prasarana, semuanya kurang. Jika kami ingin menjalankan rumah sakit seperti yang lain, kondisinya masih jauh dari mencukupi,” tegasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada terbatasnya layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah Ngantang dan sekitarnya. Ia menilai, tanpa intervensi cepat dari pemerintah daerah, RSUD Ngantang akan sulit berkembang dan memenuhi standar pelayanan minimal.

“Diharapkan dengan kehadiran Bapak Bupati yang meninjau langsung, beliau bisa mengetahui kondisi riil di lapangan dan kekurangan ini segera dipenuhi agar kami bisa melayani masyarakat dengan baik,” ujarnya.

Sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Henri menyoroti minimnya fasilitas penunjang layanan persalinan di RSUD Ngantang. Bahkan, ia mengaku tidak dapat menjalankan tugas secara optimal karena ketiadaan alat dasar.

“Saya dokter spesialis kandungan. Di sini tidak ada alat untuk menolong persalinan. Lalu saya harus bekerja seperti apa?” ungkapnya.

Ia menjelaskan, alat penting seperti fetal monitor untuk merekam detak jantung bayi tidak tersedia. Padahal, alat tersebut merupakan standar dalam proses persalinan guna memastikan kondisi ibu dan bayi.

“Alat rekam jantung bayi itu sangat dibutuhkan. Kalau tidak ada, kita tidak bisa memastikan kondisi bayi saat persalinan. Di sini alatnya tidak ada,” katanya.

Ironisnya, Henri membandingkan fasilitas RSUD Ngantang dengan puskesmas yang dinilai lebih lengkap.

“Kalau saya lihat, di puskesmas malah lebih lengkap dibandingkan di sini. Seharusnya rumah sakit lebih lengkap,” imbuhnya.

Target Kerja Sama BPJS Terhambat

Selain persoalan fasilitas, keterbatasan SDM dan sarana juga menjadi penghambat utama RSUD Ngantang untuk menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan. Padahal, kerja sama tersebut menjadi kunci peningkatan pelayanan dan akses masyarakat.

“Target terdekat kami adalah kredensialing dengan BPJS. Namun, banyak persyaratan yang harus dipenuhi, sementara kami masih terkendala tenaga, sarana, dan prasarana,” jelas Henri.

Ia menegaskan, pihaknya menargetkan kerja sama tersebut dapat terealisasi dalam waktu dekat, bahkan jika memungkinkan dalam bulan ini. Namun, realisasi target tersebut masih terhambat keterbatasan anggaran, terutama untuk rekrutmen tenaga medis.

“Saat ini terkendala karena tidak ada anggaran untuk rekrutmen SDM. Prosesnya juga berbelit, sementara jumlah pasien masih terbatas,” ujarnya.

Henri juga menekankan bahwa hampir seluruh kebutuhan di RSUD Ngantang bersifat mendesak. Bahkan, sejumlah alat seperti ventilator belum dapat digunakan karena kekurangan komponen pendukung.

“Semua itu sifatnya darurat. Ada ventilator, tetapi tidak bisa digunakan karena konektornya kurang,” katanya.

iklan warung gazebo