Situbondo, seblang.com – Kepala Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Provinsi Jawa Timur, Shodiqin, SH., MM., melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Situbondo pada Kamis (18/6/2026). Kunjungan ini memantau langsung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok sasaran Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Balita Non-PAUD (3B).
Dalam peninjauan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri Kecamatan Kendit, Shodiqin menegaskan bahwa kunjungan ini bertujuan memastikan nota kesepahaman antara Kemendukbangga/BKKBN dan Badan Gizi Nasional (BGN) berjalan optimal di lapangan, khususnya dalam penyaluran MBG bagi kelompok non-siswa.
“BKKBN memiliki peran penting dalam penyediaan data sasaran 3B. Kami ingin melihat secara langsung sejauh mana data yang sudah kami siapkan benar-benar ditindaklanjuti dan tersalurkan dengan baik kepada penerima manfaat oleh SPPG di Situbondo,” ujar Shodiqin.
Dalam monitoring tersebut, Shodiqin mendapati capaian yang sangat positif. Berdasarkan koordinasi bersama Kepala Dinas DP3P2KB Kabupaten Situbondo, Imam Hidayat, serta Koordinator Wilayah (Korwil) BGN Situbondo, Muhammad Haikal Rizky, seluruh SPPG di Situbondo dilaporkan telah bergerak maksimal.
“Informasi dari Korwil BGN, sebanyak 41 SPPG yang sudah beroperasi di Situbondo telah 100 persen menyalurkan MBG kepada sasaran 3B. Ini tentu kabar baik yang sesuai harapan kami,” jelas Shodiqin.
Secara khusus, Shodiqin mengapresiasi capaian SPPG Polri Kendit yang dinilai sukses melampaui target minimal. Berdasarkan surat edaran BGN, setiap SPPG wajib menjangkau sedikitnya 300 penerima manfaat dari kelompok 3B.
“Tadi kami lihat langsung di SPPG Kendit, jumlah sasaran 3B yang menerima manfaat mencapai 337 orang. Artinya sudah melebihi ketentuan minimal,” tambahnya.
Kendati memiliki fungsi pengawasan data, Shodiqin menegaskan bahwa kewenangan evaluasi dan sanksi terkait kepatuhan regulasi SPPG sepenuhnya berada di bawah otoritas BGN. Tugas BKKBN berfokus pada memastikan intervensi gizi sampai ke tangan yang tepat demi menekan angka stunting.
Menurutnya, program MBG memiliki nilai strategis karena langsung menyasar kelompok yang berada dalam periode emas Seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Stunting dapat dicegah sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Karena itu, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita menjadi kelompok krusial yang harus mendapatkan intervensi gizi intervensi,” tegasnya.
Secara makro di Jawa Timur, Shodiqin mengakui bahwa pelaksanaan MBG untuk sasaran 3B masih terus berkembang dan belum semua SPPG di tingkat provinsi menjangkau kelompok tersebut secara optimal. Namun, Situbondo menjadi salah satu daerah dengan rapor merah-hijau yang sangat memuaskan.
“Kalau melihat data Jawa Timur keseluruhan memang belum semua SPPG menyasar 3B. Tetapi dari hasil pemantauan langsung di beberapa kabupaten dan kota, termasuk Situbondo, pelaksanaannya sudah berjalan sangat baik,” pungkas Shodiqin.










