Ratusan Massa Jebol Portal Bendungan Lahor, PJT I Akhirnya Buka Kembali Akses Jalan dengan Pembatasan Jam Operasional

by -27 Views
Wartawan: M Adip Raharjo
Editor: Herry W. Sulaksono
aston banyuwangi

Blitar, seblang.com – Aksi penolakan terhadap kebijakan pembatasan akses kendaraan di Jalan Puncak Bendungan Lahor memuncak pada Sabtu (01/08/2026). Ratusan warga yang menggelar aksi akhirnya membuka paksa portal setelah berjam-jam menunggu kedatangan perwakilan Perum Jasa Tirta (PJT) I yang tak kunjung menemui mereka.

Pembukaan portal itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan PJT I yang mulai berlaku per 1 Agustus 2026, yakni melarang kendaraan roda empat dan kendaraan berukuran lebih besar melintasi Jalan Puncak Bendungan Lahor, jalur penghubung Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang.

Usai portal dibuka, arus lalu lintas kembali normal. Kendaraan roda dua maupun roda empat kembali melintas dari kedua arah, sementara massa tetap bertahan di lokasi untuk mengawal hasil aksi mereka.

Sebelumnya, PJT I menerapkan pembatasan tersebut sebagai upaya menjaga keamanan Bendungan Lahor yang berstatus sebagai Objek Vital Nasional (Obvitnas). Namun, kebijakan itu mendapat penolakan dari masyarakat yang menilai penutupan akses akan berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi warga.

Menurut warga, Jalan Puncak Bendungan Lahor bukan sekadar jalur penghubung, tetapi juga menjadi penopang perekonomian masyarakat. Banyak pedagang, pelaku UMKM, hingga pelaku wisata di kawasan Bendungan Lahor dan Wisata Ngreco yang menggantungkan penghasilan dari ramainya lalu lintas pengunjung.

Koordinator aksi, Hadi Wiyono atau yang akrab disapa Pak Dur, mengatakan masyarakat tidak menolak upaya menjaga keamanan bendungan. Namun, ia berharap kebijakan yang diterapkan tidak mengorbankan mata pencaharian warga.

“Perekonomian warga tumbuh dari kawasan ini. Banyak pedagang kecil, pelaku UMKM, hingga masyarakat yang mencari nafkah setiap hari di sekitar Bendungan Lahor. Kalau akses ditutup, lalu bagaimana mereka bisa hidup?” katanya.

Hal senada disampaikan perwakilan Gerakan Masyarakat Blitar (GMB), Mariono Setyo Budi atau Budi Kempes. Ia mengaku kecewa lantaran tidak ada satu pun pejabat PJT I yang menemui massa untuk berdialog, meski masyarakat telah berkumpul dalam jumlah besar.

Menurutnya, masyarakat sejak awal datang dengan harapan bisa mencari solusi bersama. Namun, karena merasa diabaikan, situasi akhirnya memanas hingga portal dibuka paksa.

iklan warung gazebo