“Isunya masih sama, buruh itu masih menuntut Tri Layak: layak kerja, layak upah, dan layak hidup. Itu yang harus terus kita angkat dan perjuangkan,” ujarnya.
Menurut Ribka, perjuangan terhadap Tri Layak bukanlah hal baru, melainkan sudah lama menjadi bagian dari komitmen ideologis PDI Perjuangan sejak era pemerintahan Presiden ke-7, Joko Widodo. Namun hingga kini, ia mengakui bahwa realisasi penuh dari tuntutan tersebut masih belum tercapai.
“Perjuangan PDI Perjuangan terhadap Tri Layak itu sudah sejak lama, bahkan sejak Presiden ke-7 Joko Widodo. Tapi sampai sekarang, kita harus jujur, itu belum sepenuhnya tercapai,” tegasnya.
Melalui momentum May Day ini, PDI Perjuangan kembali menegaskan posisinya sebagai “Partainya Wong Cilik” dengan terus mendorong kebijakan yang berpihak kepada buruh, khususnya buruh perempuan yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga di berbagai daerah.
Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto, menyatakan bahwa aksi ini merupakan cerminan semangat marhaenisme dan posisi PDI Perjuangan sebagai partai yang pro-pekerja.
“Kami memegang teguh prinsip bahwa jika buruh berdaulat, maka Indonesia akan berdikari. Ini adalah bentuk keberpihakan nyata kami kepada para pekerja,” tandasnya.
Selain pemberian sembako kepada 2.000 buruh perempuan, PDI Perjuangan juga menggelar bakti sosial berupa pengobatan gratis serta bantuan hukum bagi kaum buruh.










