Ikhtiar Maslahah NU Demi Persatuan Jam’iyah dan Umat, KH Habib Musthofa Alaydrus Buka Fakta Proses Panjang Islah

by -35 Views
Wartawan: Ahmad Suseno
Editor: Herry W. Sulaksono
KH. Habib Musthofa Alaydrus
aston banyuwangi
aston banyuwangi

Malang, seblang.com — Proses panjang ikhtiar maslahah yang bergulir di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) dalam beberapa waktu terakhir tidak dapat dipersempit hanya sebagai upaya islah semata. Dinamika internal NU harus dipahami sebagai ikhtiar maslahah yang menyeluruh demi menjaga persatuan jam’iyah NU dan umat Islam Indonesia.

Penegasan tersebut disampaikan KH Habib Musthofa Alaydrus usai kegiatan pengajian di sejumlah wilayah, Jumat (2/1/2026).

“Dalam proses ini sering muncul istilah islah dan maslahah. Islah pertama, kedua, hingga ketiga ternyata tidak sepenuhnya bisa diterima oleh semua pihak. Karena itu, saya memaknainya bukan sekadar islah, tetapi ikhtiar maslahah,” tegas KH Habib Musthofa.

Menurutnya, maslahah yang dimaksud tidak berpihak pada kelompok tertentu, melainkan untuk kepentingan NU secara kelembagaan dan umat Islam secara luas.

“Maslahah untuk semuanya. Maslahah untuk NU dan maslahah untuk umat Islam Indonesia,” ujarnya.

Habib Musthofa menguraikan, rangkaian ikhtiar tersebut bermula dari islah pertama di Pondok Ploso, dilanjutkan islah kedua di Pondok Tebuireng, hingga upaya islah ketiga melalui Musyawarah Kubro di Lirboyo. Namun, pada tahap terakhir inilah berbagai kendala muncul sehingga pertemuan yang diharapkan belum dapat terlaksana.

Dalam rencana Musyawarah Kubro tersebut, Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar sejatinya telah menyatakan kesiapan untuk hadir. Hal itu disampaikan langsung melalui komunikasi pribadi.

Pada Ahad pagi sekitar pukul 06.30 WIB, saat Habib Musthofa berada di hotel dalam persiapan menuju pengajian di wilayah Kediri, KH Miftachul Akhyar menelepon langsung. Malam sebelumnya, Habib Musthofa menghadiri ceramah di Denanyar, pondok peninggalan KH Bisri Syansuri, bersama KH Said Aqil Siradj, sementara Prof. Dr. KH Ma’ruf Amin berhalangan hadir.

“Setelah itu saya melanjutkan agenda ke Kediri untuk ceramah di haul Habib Muhammad Bakbud bin Tohir Bakbud Pelem Kediri, lalu bermalam di hotel,” tuturnya.

Keesokan harinya, Habib Musthofa kembali menerima telepon dari KH Miftachul Akhyar yang menyatakan niat dan kesiapan untuk hadir dalam pertemuan. Informasi tersebut kemudian ia sampaikan kepada Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dengan harapan pertemuan dapat terwujud demi kemaslahatan bersama.

“Saya diminta menjadi penyambung komunikasi. Karena Kiai Miftah cukup akrab dengan saya, beliau seperti guru dan ayah bagi saya. Sementara Gus Yahya juga masih memiliki hubungan keluarga dengan istri saya,” jelasnya.

Namun, Habib Musthofa menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memosisikan diri sebagai pendamai.

“Saya bukan pendamai. Pendamai itu adalah seluruh warga NU,” ujarnya, seraya menyebut peran para ulama dari berbagai pesantren besar seperti Lirboyo, Ploso, Tebuireng, Tambakberas, Denanyar, Sarang, Kajen, Lasem, Bangkalan, Pasuruan, hingga pondok-pondok lainnya.

Gagalnya pertemuan tersebut kemudian memunculkan berbagai wacana, termasuk Muktamar Luar Biasa (MLB). Habib Musthofa menilai MLB bukan agenda ringan karena memiliki konsekuensi besar bagi organisasi.

Ia menegaskan bahwa baik Gus Yahya maupun Kiai Miftachul Akhyar adalah sosok pilihan yang sama-sama menginginkan kebaikan NU dan tidak menghendaki terjadinya MLB.

Meski dinamika terus berkembang, Habib Musthofa menegaskan bahwa jalan maslahah harus tetap dicari. Ia kemudian bertolak ke Surabaya untuk bertemu tim Kiai Miftachul Akhyar guna membahas mekanisme undangan dan kepastian kehadiran Gus Yahya.

“Saya sampaikan, jika ada undangan dari kami, saya siap menjadi jaminannya demi maslahah bersama,” ungkapnya.

Sejumlah lokasi sempat dipertimbangkan, mulai dari Bangkalan, Pasuruan, Kaliwungu, Ploso, Tebuireng, hingga Lirboyo. Setelah musyawarah panjang, disepakati Lirboyo sebagai lokasi pertemuan, sebelum komunikasi dialihkan ke Pondok Suci Mamba’us Sholihin milik KH Masbuhin.

Kesepakatan akhirnya dicapai: pertemuan dijadwalkan Kamis pukul 10.00 WIB, dan seluruh pihak menyatakan persetujuan.

Menutup keterangannya, KH Habib Musthofa kembali menegaskan bahwa seluruh ikhtiar yang ia lakukan semata-mata demi menjaga kemaslahatan NU dan persatuan umat Islam.

“Saya hanya berusaha menyambungkan komunikasi. Selebihnya, maslahah ini adalah kehendak Allah yang ditopang doa warga NU,” tandasnya.

Usai pertemuan di Lirboyo, Ketua Umum PBNU Gus Yahya bersama jajaran pengurus PBNU bersilaturahmi ke kediaman Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Dua hari kemudian, digelar acara syukuran, sholawatan, dan makan bersama seluruh pengurus PBNU, yang dipandu langsung oleh KH Habib Musthofa Alaydrus.//////////

iklan warung gazebo