Selain itu, ITS melalui OPOP Training Center memberikan pelatihan dan pendampingan koperasi pesantren di delapan wilayah Jawa Timur. UNUSA juga berperan melalui program serupa. Sementara itu, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jawa Timur menghadirkan Samsat OPOP, Bank Indonesia mendukung digitalisasi pembayaran, serta Bank Jatim Syariah melalui layanan perbankan syariah.
“Jawa Timur sebagai gerbang baru Nusantara menjadi penghubung berbagai daerah, terutama Indonesia bagian timur. Karena itu, partisipasi pesantren sangat penting dalam mencetak SDM unggul yang mampu menggerakkan ekonomi,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa, mengatakan rakor ini bertujuan memperkuat sinergi dan kolaborasi program pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis pesantren.
Selain itu, kegiatan ini juga untuk mempererat silaturahmi antara pemerintah, stakeholder, dan pesantren anggota OPOP Jawa Timur, serta meningkatkan pemahaman strategi pengembangan ekonomi berbasis pesantren melalui benchmarking koperasi sukses.
Rakor ini diikuti 170 peserta dari 100 pesantren program OPOP Tahun 2026, 10 peserta OPOP terbaik periode 2019–2025, anggota Tim Eko-Tren OPOP Jawa Timur, serta 100 pesantren peserta lainnya yang mengikuti secara daring.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan berbagai bantuan dan sertifikat, antara lain sertifikat badan hukum koperasi, sertifikat halal, sertifikat merek HAKI, bantuan 1.000 koperasi pesantren inovatif, santunan kematian dari BPJS Ketenagakerjaan, serta peluncuran program Pesawat OPOP Jatim Tahun 2026. (*ady)










