Fenomena Dunia Kerja Era Digital: Gen Z Sering Resign, Salah Siapa?

by -55 Views
Wartawan: Nurhadi
Editor: Herry W. Sulaksono
aston banyuwangi

Bukan Semata Salah Gen Z

Yang perlu digarisbawahi, persoalan ini bukan tentang siapa yang benar atau siapa yang salah. Ada dua pihak yang sama-sama perlu berbenah.

Di sisi organisasi, masih banyak perusahaan di Indonesia yang menjalankan sistem manajemen yang dirancang untuk generasi dengan ekspektasi berbeda, yakni generasi yang lebih mengutamakan stabilitas dan loyalitas jangka panjang.

Sistem seperti ini sering kali minim ruang untuk umpan balik yang terbuka, kurang memberikan kejelasan jenjang karier, serta pelit dalam memberikan pengakuan atas kontribusi harian karyawan.

Padahal, riset psikologi organisasi secara konsisten menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut, yang dalam kerangka Job Demands-Resources Model yang dikembangkan Demerouti dan Bakker disebut sebagai job resources, memiliki peran besar dalam menjaga keterikatan karyawan. Bahkan, pengaruhnya sering kali lebih besar dibandingkan sekadar besaran gaji.

Di sisi lain, Gen Z juga perlu membangun kemampuan yang kerap luput dari perhatian, yakni kemampuan menyampaikan ekspektasi secara konstruktif sebelum memilih jalan pintas berupa keluar diam-diam atau bertahan sambil menarik diri.

Psikologi organisasi mengenal istilah voice behavior, yaitu keberanian menyampaikan keluhan maupun usulan perbaikan secara terbuka kepada atasan. Keterampilan ini dapat dilatih dan sering kali menjadi jalan tengah yang jauh lebih produktif dibandingkan dua respons ekstrem tersebut.

Saatnya Duduk Bersama Membenahi

Fenomena job hopping dan quiet quitting pada akhirnya menjadi cermin bahwa kontrak psikologis antara pekerja muda dan dunia kerja di Indonesia perlu dinegosiasikan kembali.

Bagi organisasi, hal ini berarti berinvestasi pada budaya umpan balik yang jujur, jenjang karier yang transparan, serta pengakuan yang konsisten terhadap kontribusi karyawan, bukan hanya melalui tunjangan, tetapi juga melalui interaksi sehari-hari antara atasan dan bawahan.

Bagi generasi muda yang baru memasuki dunia kerja, ini merupakan kesempatan untuk mengembangkan keberanian menyampaikan kebutuhan secara sehat, alih-alih memilih jalan sunyi berupa diam-diam menarik diri atau diam-diam menyiapkan rencana resign.

Ketika kedua belah pihak sama-sama bersedia memperbaiki kontrak psikologis yang retak ini, dunia kerja Indonesia memiliki peluang membangun hubungan kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan. Bukan sekadar bertahan karena keterpaksaan, melainkan bertahan karena benar-benar merasa dihargai.//////////

iklan warung gazebo