Apabila produktivitas rata-rata Padi Sukma nantinya mampu bertahan di angka 10 ton per hektare, peningkatannya dibandingkan produktivitas rata-rata Kabupaten Malang saat ini diperkirakan mencapai sekitar 30 persen.
“Harapan saya, nanti kalau varietas ini bisa menghasilkan 10 ton saja, dibandingkan dengan 7 ton yang sekarang, peningkatan produksi kita bisa mencapai 30 persen. Itu luar biasa,” tuturnya.
SK Pelepasan Varietas Padi Sukma disebut telah diterbitkan Kementan pada awal Agustus 2026. Dengan terbitnya SK tersebut, proses pengembangan memasuki tahapan baru, terutama penyediaan benih sumber sebagai bahan awal untuk perbanyakan benih.
Pengembangan tersebut tetap melibatkan kelompok tani di Desa Kasembon sebagai wilayah asal ditemukannya varietas Padi Sukma. Pada tahap penyiapan benih sumber, DTPHP Kabupaten Malang juga melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dukungan perguruan tinggi masih dimungkinkan untuk memperkuat pengembangan pada tahap selanjutnya.
Pemkab Malang menargetkan Padi Sukma dapat diperkenalkan secara lebih luas pada akhir musim tanam 2027. Avicenna menyebut peluncuran ditargetkan sekitar Oktober 2027 apabila seluruh tahapan pengembangan berjalan sesuai rencana.
“Insya Allah akhir musim tanam tahun 2027 sudah bisa kita launching. Untuk musim tanam itu sekitar Oktober 2027 mendatang,” ungkapnya.
Dengan masuknya Padi Sukma ke tahap pengembangan, keberhasilan varietas lokal tersebut nantinya tidak hanya diukur dari angka produksi tertinggi 14 ton per hektare. Kemampuan menghasilkan produksi yang stabil, menjaga kualitas benih, serta memberikan hasil yang konsisten bagi petani akan menjadi tahapan penting berikutnya.
Pemerintah Kabupaten Malang kini memiliki waktu untuk membuktikan potensi tersebut sebelum Padi Sukma diperkenalkan lebih luas kepada petani. Jika hasil pengujian lanjutan menunjukkan produktivitas yang stabil, varietas asal Bululawang ini berpotensi menjadi salah satu inovasi pertanian lokal yang mendukung peningkatan produksi padi di Kabupaten Malang.////////










