“Alhamdulillah penghasilannya jadi dobel kalau ada lomba. Dari warung dapat, rumah sewa juga terisi. Harapan saya semoga Banyuwangi semakin sering menggelar kejuaraan,” ujarnya.
Yuli mengatakan, sebelum sirkuit dibangun kawasan tempat tinggalnya merupakan area persil perkebunan yang relatif sepi. Kini suasana berubah setiap kali ada agenda balap. Warga memanfaatkan keramaian dengan membuka berbagai usaha untuk melayani kebutuhan atlet maupun penonton.
Hal serupa dirasakan Tumini yang rumahnya berada tepat di samping sirkuit. Selain membuka warung, ia juga menyediakan penyewaan kendaraan dan toilet umum.
“Sirkuit BMX ini sangat menguntungkan. Karena sering ada lomba, kami ikut kecipratan rezeki dengan berjualan makanan, menyewakan kendaraan, dan toilet umum,” katanya.
Sementara Dewi memilih menjadi pedagang musiman setiap kali ada kejuaraan. Bahkan ia mulai berjualan sejak sepekan sebelum lomba karena para atlet biasanya datang lebih awal untuk berlatih.
“Senang sekali. Setiap ada lomba kami bisa menambah penghasilan keluarga. Semoga Banyuwangi semakin sering dipercaya menjadi tuan rumah,” ujarnya.
Kepercayaan menjadi tuan rumah dua kejuaraan secara beruntun menunjukkan Sirkuit BMX Banyuwangi tak hanya berfungsi sebagai arena pembinaan atlet dan tempat lahirnya para juara. Di luar lintasan, keberadaan sirkuit juga menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Saat para rider terus mengayuh sepeda mengejar prestasi, warga sekitar ikut memetik manfaat melalui meningkatnya aktivitas usaha dan perputaran ekonomi lokal.///////










