“Beberapa waktu lalu terjadi kasus serangan monyet ekor panjang di Jember yang mengakibatkan sedikitnya tujuh orang mengalami luka,” ungkapnya.
Menurut Dwi, perilaku agresif biasanya meningkat saat musim kawin atau musim birahi. Pada kondisi itu, monyet jantan yang dipelihara tanpa pasangan betina dapat mengalami stres biologis yang memicu perilaku menyerang.
“Biasanya saat musim birahi, pejantan yang dipelihara tanpa betina akan lebih agresif karena dorongan alaminya tidak tersalurkan,” jelasnya.
Selain ancaman serangan, monyet ekor panjang juga berpotensi membawa penyakit menular yang bisa membahayakan manusia.
“Karena itu, kami mengimbau masyarakat agar tidak memelihara satwa liar tanpa izin, termasuk monyet ekor panjang,” imbuhnya.
Bagi masyarakat yang saat ini masih memelihara satwa liar, pihaknya meminta agar segera menyerahkan kepada instansi pemerintah yang berwenang yakni BKSDA, untuk dilakukan rehabilitasi atau pelepasliaran.
“Tempat hidup terbaik satwa liar adalah di hutan. Di sanalah mereka hidup, berkembang biak secara alami dan menjaga keseimbangan ekosistem” tegas Dwi.
Ia berharap keterlibatan aktif masyarakat dan stakeholder terkait dapat memperkuat upaya konservasi, sehingga satwa liar tetap lestari di habitatnya dan tidak menimbulkan konflik dengan manusia di kemudian hari.//////










