Potensi Pertanian Banyuwangi Jadi Magnet Anak Muda, Regenerasi Petani Mulai Tumbuh

by -18 Views
Wartawan: Teguh Prayitno
Editor: Herry W. Sulaksono
aston banyuwangi
aston banyuwangi

Banyuwangi, seblang.com – Besarnya potensi sumber daya pertanian di Banyuwangi menjadi alasan kuat pemerintah daerah menjadikan sektor ini sebagai program prioritas. Di bawah kepemimpinan Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, regenerasi petani terus didorong agar kekuatan sektor pertanian tetap terjaga di masa depan.

Sebagai daerah dengan bentang alam lengkap, mulai dari dataran rendah, kawasan pegunungan, hingga wilayah pesisir, Banyuwangi memiliki potensi agraris yang besar. Kondisi tanah yang subur, ketersediaan air, serta iklim tropis yang mendukung menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu penopang utama ekonomi daerah.

Karena itu, Ipuk menilai regenerasi petani menjadi kebutuhan mendesak agar potensi besar tersebut tidak tergerus zaman.

Banyuwangi memiliki potensi sangat besar di sektor pertanian. Karena itu, sektor ini menjadi salah satu program prioritas kami. Regenerasi harus dipikirkan agar anak-anak muda tertarik,” kata Ipuk, Kamis (30/4/2026).

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Pemkab Banyuwangi menggulirkan berbagai program, salah satunya melalui Jagoan Tani. Program ini menjadi ruang inkubasi bagi generasi muda agar mampu membaca peluang di sektor pertanian, mulai dari budidaya hingga pengolahan hasil.

Digagas sejak 2021, program tersebut telah melahirkan ratusan petani milenial yang kini aktif mengembangkan usaha pertanian modern dan inovatif.

Ipuk menyebut, sektor pertanian Banyuwangi bukan hanya berbicara soal produksi pangan, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi besar jika dikelola dengan pendekatan baru yang lebih kreatif.

“Anak-anak muda punya kreativitas dan semangat inovasi. Ini penting untuk mengolah potensi pertanian Banyuwangi agar lebih bernilai,” ujarnya.

Potensi tersebut dibaca dengan baik oleh Paul Corneles Hariyono, pemuda asal Desa Purwoharjo yang sukses mengembangkan greenhouse melon hidroponik premium melalui Virgin Farm.

Menurut Neles, Banyuwangi memiliki modal alam yang sangat kuat untuk pengembangan hortikultura premium.

“Kita punya lahan subur, sinar matahari sepanjang tahun, air melimpah, dan iklim yang baik untuk pertanian. Sangat sayang jika disia-siakan,” ujarnya.

Berangkat dari potensi itu, ia mulai menanam 550 batang melon premium varietas sweet lavender, sweet honey, dan dalmatian. Selain menyasar pasar buah premium, konsep greenhouse tersebut juga akan dikembangkan menjadi wisata petik buah, membuka potensi baru di sektor agrowisata.

Selain hortikultura, potensi pertanian terpadu juga dikembangkan oleh Rega, pemuda asal Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo.

Di lahan seluas satu hektare, Rega menggabungkan budidaya jeruk, jagung, peternakan domba, dan budidaya ikan nila dalam sistem integrated farming.

Model ini dinilai sangat relevan dengan karakter Banyuwangi yang memiliki potensi lahan luas dan sumber daya air memadai, sehingga seluruh sektor dapat saling mendukung dalam satu siklus produksi.

Limbah peternakan diolah menjadi pupuk organik, batang jagung menjadi pakan ternak, sementara air kolam ikan dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman.

“Hasil pengolahan limbah itu saya gunakan untuk pemupukan sawah, sehingga bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia, lebih hemat, dan ramah lingkungan,” kata Rega.

Ipuk menilai langkah para petani muda ini menjadi bukti bahwa potensi pertanian Banyuwangi sangat besar jika digarap dengan inovasi dan keberanian generasi muda.

Dengan kekuatan sumber daya alam, dukungan program pemerintah, serta hadirnya inovasi anak muda, Banyuwangi dinilai memiliki peluang besar menjadi pusat pertanian modern berbasis teknologi dan berkelanjutan di masa depan.

iklan warung gazebo