Aksi spontan tersebut mengundang simpati dan menggetarkan hati para peserta upacara yang menyaksikannya.
Bagi Mas Rio, Pak Sardiran bukan sekadar guru masa kecil, melainkan fondasi awal perjalanan hidupnya. Sosoknya yang sabar dan telaten dalam mengajar meninggalkan kesan mendalam.
“Siapa pun yang mengenal beliau pasti paham. Beliau guru paling sabar, tidak akan pernah dilupakan,” kenangnya.
Ia juga mengakui bahwa nilai kesabaran dalam kepemimpinannya saat ini merupakan buah dari didikan sang guru sejak di bangku sekolah dasar.
Pertemuan hangat di Alun-Alun Situbondo ini menjadi potret nyata makna Hari Pendidikan Nasional—tentang jasa guru yang membentuk masa depan generasi.










