Iuran JKN Wujud Gotong Royong Sesungguhnya

by -21 Views
Salah satu peserta JKN asal Mojokerto, Ainia (37), merasakan langsung manfaat program JKN.
aston banyuwangi
aston banyuwangi

Mojokerto, seblang.com – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sebagai pengelola Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat Indonesia. Selain pelayanan, penyebaran informasi tentang manfaat dan mekanisme program JKN juga menjadi hal penting, termasuk penjelasan mengenai pemanfaatan iuran peserta.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Mojokerto, Elke Winasari, menjelaskan bahwa sistem JKN berjalan berdasarkan prinsip gotong royong, yakni peserta yang sehat membantu peserta yang sedang sakit.

“Setiap rupiah iuran peserta tidak ada yang terbuang. Dana tersebut langsung digunakan untuk membiayai pelayanan kesehatan bagi peserta JKN yang sedang membutuhkan pengobatan maupun layanan kesehatan lainnya,” terang Elke, Senin (13/10).

Ia menambahkan, banyak peserta yang mungkin bertanya ke mana iuran mereka mengalir jika jarang berobat. “Iuran yang dibayarkan setiap bulan tidak hilang begitu saja. Justru iuran itu menjadi sumber pembiayaan bagi peserta lain yang sedang sakit. Sistem JKN dirancang dengan prinsip gotong royong: yang sehat membantu yang sakit, yang mampu membantu yang kurang mampu,” jelasnya.

Elke mencontohkan, satu kali tindakan operasi jantung bisa mencapai Rp150 juta. Tanpa program JKN, biaya sebesar itu akan sangat berat bagi sebagian besar masyarakat. “Melalui sistem gotong royong JKN, biaya besar seperti operasi jantung bisa ditanggung bersama ribuan peserta lain. Kalau menabung sendiri, mungkin butuh waktu bertahun-tahun,” ujarnya.

Manfaat JKN, lanjut Elke, tidak hanya dirasakan saat peserta mengalami sakit berat, tetapi juga saat memerlukan pelayanan kesehatan dasar. “Semua jenis pelayanan kesehatan bisa dimanfaatkan melalui program JKN tanpa perlu khawatir soal biaya. Bahkan layanan promotif dan preventif pun bisa diakses hanya dengan menunjukkan nomor JKN atau NIK,” katanya.

Menurutnya, JKN bukan sekadar asuransi kesehatan, tetapi jaring pengaman sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. “Mungkin hari ini seseorang belum pernah berobat, tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa jadi besok atau tahun depan, iuran yang dibayarkan menjadi penolong di saat dibutuhkan. Itulah makna gotong royong dalam JKN,” tambahnya.

Salah satu peserta JKN asal Mojokerto, Ainia (37), membenarkan hal itu. Ia yang sebelumnya jarang menggunakan fasilitas kesehatan, sempat bertanya-tanya ke mana iuran bulanannya digunakan. Namun, pandangannya berubah ketika harus menjalani perawatan di rumah sakit karena komplikasi penyakit.

“Dulu saya jarang berobat dan sempat berpikir iuran tiap bulan tidak tahu ke mana. Tapi waktu saya masuk rumah sakit dan dirawat cukup lama, saya tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Semua ditanggung oleh JKN,” ujar Ainia.

Kini, ia rutin membayar iuran setiap bulan dan menyadari pentingnya sistem gotong royong tersebut. “Ketika saya sehat, saya membantu peserta lain yang sakit. Saat saya sakit, ribuan peserta lain ikut membantu saya. Kalau tidak ada JKN, saya tidak tahu bagaimana membayar biaya rumah sakit waktu itu,” pungkasnya.//////

iklan warung gazebo