“Tidak sekadar mengembalikan mereka ke sekolah, kami juga terus mendampingi, baik dari sisi prestasi maupun kebutuhan pendidikannya hingga lulus,” ujarnya.
Selain melalui pendataan, Ipuk juga rutin turun langsung mengunjungi rumah anak-anak yang teridentifikasi berisiko putus sekolah. Langkah itu dilakukan untuk memberikan motivasi kepada anak maupun keluarganya agar tetap melanjutkan pendidikan.
“Dengan kolaborasi banyak pihak, kami berharap semakin banyak anak Banyuwangi yang bisa menyelesaikan pendidikannya. Pendidikan merupakan salah satu kunci memutus rantai kemiskinan,” katanya.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian menambahkan, pendampingan diawali dengan verifikasi dan validasi data anak yang rentan putus sekolah. Setelah itu, tim melakukan kunjungan langsung ke rumah untuk mengetahui penyebab mereka tidak bersekolah sehingga bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan.
“Anak-anak yang memang benar berstatus ATS akan kami visitasi untuk mengetahui akar persoalannya. Dari situ kami menentukan afirmasi atau bantuan yang paling sesuai, baik mengembalikan ke sekolah formal, pendidikan kesetaraan, maupun memfasilitasi akses berbagai bantuan pendidikan yang tersedia,” jelas Alfian.
Selain Program Rindu Bulan, Banyuwangi juga memiliki program Siswa Asuh Sebaya (SAS). Melalui gerakan ini, para siswa diajak menyisihkan sebagian uang saku untuk membantu teman-temannya yang kurang mampu memenuhi kebutuhan pendidikan, seperti sepeda, kacamata, perlengkapan sekolah, uang saku, hingga kebutuhan penunjang belajar lainnya.
Program tersebut tidak hanya membantu siswa dari keluarga kurang mampu, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian dan empati di lingkungan sekolah sekaligus menjadi jaring pengaman sosial agar anak-anak tetap bisa melanjutkan pendidikan.///////










