“Banyuwangi memiliki potensi yang luar biasa. Alamnya indah, budayanya kuat, kulinernya menarik, kopinya juga luar biasa. Yang paling penting, tim di daerah sangat kreatif. Saya melihat pariwisata bisa menjadi engine of future economic growth bagi Banyuwangi,” ungkap Maya.
Karena itu, InJourney akan menyusun roadmap bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Fokusnya meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara sekaligus memperbesar arus wisatawan nusantara.
Salah satu agenda yang langsung masuk prioritas adalah Gandrung Sewu yang digelar Oktober mendatang. Event kolosal tersebut dinilai memiliki daya tarik besar untuk dipromosikan sebagai etalase budaya Indonesia di tingkat dunia.
“Event ini memiliki potensi besar menjadi etalase budaya Indonesia di mata dunia. Dengan pengemasan dan promosi yang lebih kuat, kami optimistis daya tariknya akan semakin besar,” ujar Maya.
Selain promosi dan event, akses menuju Banyuwangi juga akan diperkuat. Direktur Utama Angkasa Pura Mohammad Rizal Pahlevi mengatakan pihaknya melihat peluang meningkatkan frekuensi penerbangan menuju Banyuwangi.
Namun, menurut Rizal, pengembangan konektivitas harus dilakukan secara terukur dengan mengintegrasikan Banyuwangi bersama destinasi wisata lain agar tingkat keterisian penumpang tetap tinggi.
“Kami melihat potensi penambahan frekuensi penerbangan ke Banyuwangi. Namun pengembangannya harus dirancang secara komprehensif, misalnya mengintegrasikan rute Banyuwangi dengan destinasi wisata lain sehingga tingkat keterisian penumpang tetap terjaga,” jelas Rizal.
Ia menambahkan, keberhasilan pengembangan pariwisata tidak hanya bergantung pada destinasi yang menarik, tetapi juga kemudahan akses menuju lokasi wisata.
“Ketika event bertambah kuat, destinasi semakin menarik, dan akses transportasi semakin mudah, maka ekosistem pariwisata akan tumbuh. Dampaknya bukan hanya pada jumlah wisatawan, tetapi juga terhadap ekonomi masyarakat,” pungkasnya.//////










