Pada 2019, Setyowati mengalami pusing hebat dan memeriksakan diri ke FKTP Klinik Prambanan. Dari hasil pemeriksaan, tekanan darahnya tercatat lebih dari 200 sehingga ia dirujuk ke RSUD Blambangan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
“Waktu itu saya merasa pusing sekali. Setelah diperiksa, ternyata tekanan darah saya lebih dari 200. Dari klinik kemudian saya dirujuk ke RSUD Blambangan untuk diperiksa lebih lanjut. Setelah dilakukan pemeriksaan dan rontgen, diketahui ada pembengkakan pembuluh darah,” cerita Setyowati.
Sejak saat itu, ia rutin menjalani kontrol di RSUD Blambangan. Untuk mendapatkan obat secara rutin, Setyowati juga memanfaatkan Program Rujuk Balik (PRB) melalui Klinik Prambanan.
Pengalaman tersebut membuat Setyowati semakin memperhatikan kondisi tubuh dan mengubah sejumlah kebiasaan sehari-hari. Ia berusaha tetap aktif bergerak, berolahraga, menjaga pola makan, serta mengelola pikiran agar tetap tenang.
“Sekarang saya lebih menjaga pola hidup. Saya berusaha tetap aktif bergerak dan berolahraga, lebih memperhatikan makanan yang dikonsumsi, dan yang tidak kalah penting berusaha menjaga pikiran supaya tetap tenang dan semangat. Setelah mengetahui kondisi kesehatan saya, saya merasa memang harus lebih peduli dengan diri sendiri,” ujarnya.
Setyowati pun mengajak peserta JKN tidak menunggu munculnya keluhan untuk mulai memperhatikan kesehatan. Menurutnya, skrining dapat menjadi langkah sederhana untuk mengenali risiko kesehatan lebih awal.
“Saya juga mengajak teman-teman peserta untuk mencoba skrining riwayat kesehatan melalui Mobile JKN. Caranya mudah dan waktunya juga tidak lama. Daripada menunggu sakit, lebih baik kita mengetahui risiko kesehatan sejak awal,” tuturnya.///////










