Banyuwangi, seblang.com – Tradisi menikmati kopi tubruk menggunakan cangkir dan lepek hingga kini masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat. Selain menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat, cara tersebut dinilai memiliki sensasi rasa yang berbeda dibandingkan menikmati kopi menggunakan wadah modern seperti paper cup.
Budayawan Banyuwangi, Aekanu Hariyono, mengatakan, salah satu alasan tradisi penggunaan cangkir dan lepek masih bertahan adalah cara menikmati kopi yang khas. Kopi biasanya dituang ke dalam lepek, kemudian ditiup agar sedikit lebih dingin sebelum diseruput.
“Jadi, cangkir dan lepek mengapa sampai sekarang masih ada? Itu karena cara minum kopi dengan dituang dalam lepek, kemudian ditiup supaya agak dingin, selanjutnya diseruput. After taste-nya memang sangat terasa sekali,” ujar Aekanu di Rumah Kebangsaan Basecamp Banyuwangi, Kamis (17/9/2026).
Menurut Aekanu, cara tersebut memberikan jejak rasa atau after taste serta sensasi tersendiri ketika kopi diseruput dari lepek.
“Ini yang saya perhatikan dari orang-orang tua dulu seperti itu. Dan sampai sekarang ternyata kalau saya lakukan, cita rasanya sangat berbeda. Maaf ya, paper cup saya sudah enggak terlalu suka karena pengaruh aroma dan cita rasa sangat berbeda sekali dengan ketika kita tuang di lepek,” ujar travel guide senior Banyuwangi tersebut.
Sebagai budayawan, Aekanu berupaya menjaga dan melestarikan cara menikmati kopi menggunakan cangkir dan lepek. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan salah satu budaya dan warisan leluhur yang patut dikenalkan kepada wisatawan yang datang ke Banyuwangi dari berbagai daerah, bahkan dari mancanegara.
Selain cangkir dan lepek, tradisi menikmati kopi juga kerap dilengkapi dengan gula Jawa atau gula aren. Kopi hangat dapat diseruput langsung dari cangkir atau dituang terlebih dahulu ke lepek, sementara gula aren dinikmati secara terpisah.










