Meski saat ini baru tersedia satu varian roti tawar kentang, tim telah menyiapkan pengembangan produk lanjutan. Inovasi ke depan diarahkan pada penambahan varian rasa, termasuk kemungkinan isian selai maupun olahan turunan lainnya.
Namun, di balik capaian tersebut, tantangan tetap dihadapi. Keterbatasan waktu produksi menjadi kendala utama, mengingat para siswa masih harus membagi fokus dengan kegiatan akademik. Selain itu, fasilitas produksi yang belum maksimal juga menjadi pekerjaan rumah dalam meningkatkan kapasitas.
“Waktu produksi sering kali terbatas karena kami juga harus mengikuti kegiatan belajar. Selain itu, tempat produksi masih perlu ditingkatkan agar lebih optimal,” ungkap Arifah.
Terlepas dari kendala yang ada, langkah SMAN 1 Tumpang ini menunjukkan bagaimana pendidikan dapat terintegrasi dengan penguatan jiwa kewirausahaan. Pemanfaatan potensi lokal seperti kentang tidak hanya mendorong kreativitas siswa, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang berkelanjutan di tingkat sekolah./////










