“Kita punya lahan subur, sinar matahari sepanjang tahun, air melimpah, dan iklim yang baik untuk pertanian. Sangat sayang jika disia-siakan,” ujarnya.
Berangkat dari potensi itu, ia mulai menanam 550 batang melon premium varietas sweet lavender, sweet honey, dan dalmatian. Selain menyasar pasar buah premium, konsep greenhouse tersebut juga akan dikembangkan menjadi wisata petik buah, membuka potensi baru di sektor agrowisata.
Selain hortikultura, potensi pertanian terpadu juga dikembangkan oleh Rega, pemuda asal Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo.
Di lahan seluas satu hektare, Rega menggabungkan budidaya jeruk, jagung, peternakan domba, dan budidaya ikan nila dalam sistem integrated farming.
Model ini dinilai sangat relevan dengan karakter Banyuwangi yang memiliki potensi lahan luas dan sumber daya air memadai, sehingga seluruh sektor dapat saling mendukung dalam satu siklus produksi.
Limbah peternakan diolah menjadi pupuk organik, batang jagung menjadi pakan ternak, sementara air kolam ikan dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman.
“Hasil pengolahan limbah itu saya gunakan untuk pemupukan sawah, sehingga bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia, lebih hemat, dan ramah lingkungan,” kata Rega.
Ipuk menilai langkah para petani muda ini menjadi bukti bahwa potensi pertanian Banyuwangi sangat besar jika digarap dengan inovasi dan keberanian generasi muda.
Dengan kekuatan sumber daya alam, dukungan program pemerintah, serta hadirnya inovasi anak muda, Banyuwangi dinilai memiliki peluang besar menjadi pusat pertanian modern berbasis teknologi dan berkelanjutan di masa depan.










