“Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton perubahan, tetapi harus menjadi pelaku dan penggerak kemajuan daerah dan bangsa,” tegasnya.
Ipuk juga meminta generasi muda tidak berhenti mengembangkan kapasitas diri. Kemampuan bersaing di tingkat internasional harus diimbangi dengan komitmen menjaga budaya dan kearifan lokal.
Dia mendorong pemuda memanfaatkan teknologi untuk menciptakan inovasi dan membuka peluang ekonomi baru, terutama di sektor ekonomi kreatif, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pertanian modern, serta pariwisata.
“Kuasai teknologi, ciptakan inovasi dan peluang dalam ekonomi kreatif, UMKM, pertanian modern, dan pariwisata. Jadilah pencipta dan penggerak perubahan, bukan sekadar konsumen,” katanya.
Selain peningkatan kompetensi, Ipuk menekankan pentingnya memperluas jejaring dan membangun kerja sama lintas sektor. Menurutnya, persatuan dan kolaborasi diperlukan agar potensi generasi muda bisa memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat.
“Jaga persatuan dan hindari perpecahan. Perkuat jejaring, sinergi dan kolaborasi untuk kemajuan Banyuwangi. Jadilah mitra pemerintah dalam menghadirkan pelayanan yang lebih cepat, inklusif, dan berdampak,” ujarnya.
Ipuk menyebut kolaborasi berbagai pihak turut berperan dalam mendorong capaian pembangunan Banyuwangi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan Banyuwangi pada 2026 turun menjadi 5,6 persen, terendah dalam dua dekade.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi disebut tetap kuat, ketimpangan menyempit, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terus meningkat. Banyuwangi juga kembali meraih predikat kabupaten berkinerja tertinggi se-Indonesia dan kabupaten terinovatif nasional.
“Semua capaian ini merupakan buah kerja keras masyarakat, khususnya pemuda. Mari kita terus tandang bareng untuk Banyuwangi yang maju, sejahtera dan berkah,” pungkas Ipuk.///////










