Jember, seblang.com – Nurul Hasanah tidak langsung menemukan karakter konten yang membuat namanya dikenal di media sosial. Kreator asal Kecamatan Mumbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, ini memulai perjalanan dengan membuat ulasan kecantikan sebelum akhirnya menarik perhatian warganet melalui perpaduan bahasa Madura, Indonesia, dan Inggris, dengan gaya bicara lembut atau soft-spoken.
Kini, Nurul dikenal melalui akun Instagram dan TikTok @nurul.hsh. Jumlah pengikutnya mencapai sekitar 33 ribu di Instagram dan 29,7 ribu di TikTok. Sejumlah videonya mendapat respons tinggi, bahkan ada unggahan yang meraih ratusan ribu tanda suka.
Perubahan arah konten tersebut bermula dari keinginannya menjangkau pengguna TikTok. Saat masih berfokus di Instagram, Nurul lebih sering membuat ulasan produk maupun layanan kecantikan menggunakan bahasa Indonesia.
“Eh, sebenarnya mulai ngonten itu dari tahun lalu. Ngontennya itu review-review awalnya. Jadi, enggak ke personal branding, lebih ke review usahanya orang, kayak gitu. Kayak food vlogger, tapi lebih ke kecantikan awalnya, beauty, beauty vlogger berarti ya,” kata Nurul saat diwawancarai di rumahnya, Selasa (20/10/2026) malam.
Ketika mencoba TikTok, ia memperhatikan banyak pengguna platform tersebut menggunakan bahasa Madura. Nurul kemudian melihat peluang untuk membangun kedekatan dengan penonton melalui bahasa yang sudah akrab dalam kehidupan sehari-harinya.
“Pas saya ingin ngonten di TikTok itu kebanyakan saya lihat orang kan berbahasa Madura. Saya pikir itu kayaknya lebih dekat kalau saya berbahasa Madura nih, gitu,” ujarnya.
Dari situ, Nurul mulai memadukan bahasa Madura, Indonesia, dan Inggris dengan gaya komunikasi soft-spoken. Konsep tersebut sesuai dengan karakter dirinya yang terbiasa berbicara pelan dan tidak terlalu lantang.
“Ya itulah. Jadi mau bikin cewek soft-spoken, cuma kayaknya lebih dekat kalau pakai bahasa Madura aja,” katanya.
Nurul mengaku tidak menyangka pendekatan tersebut mendapat sambutan luas. Kontennya bukan hanya menarik perhatian pengguna TikTok, tetapi juga memperoleh respons besar di Instagram.
“Loh kok sama-sama viral, malah waktu itu kebanyakan Instagram,” ucapnya.
Ia juga terkejut ketika menerima banyak tanggapan dari pengguna media sosial di luar Jember. Sejumlah warganet menyampaikan salam dari Pamekasan, Sumenep, Situbondo, Bondowoso, dan berbagai daerah lain di kawasan Tapal Kuda.
Respons tersebut terasa istimewa karena bahasa Madura yang digunakannya bukan bahasa yang sengaja dipelajari untuk membuat konten. Nurul tumbuh dengan bahasa tersebut sebagai alat komunikasi di lingkungan keluarga.
“Iya, dari lahir. Orang tua juga bahasa Madura. Jadi komunikasi sama orang tua itu bahkan sampai SD itu Madura. Jadi bahasa Indonesia itu cuma bisa dikit-dikit,” jelasnya.












