Lansia di Jember Keluhkan Antrean Panjang di Puskesmas dan Rumah Sakit, Enggan Berobat Meski Idap Penyakit Kronis

by -6 Views
Wartawan: Nur Imatus Safitri
Editor: Herry W. Sulaksono
aston banyuwangi
aston banyuwangi

Jember, seblang.com – Warga lanjut usia (lansia) dan penderita penyakit kronis di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengeluhkan lamanya waktu antre saat menjalani pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan milik pemerintah.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga memilih menahan sakit dan enggan memeriksakan diri ke puskesmas maupun rumah sakit hingga penyakit yang diderita semakin parah.

Keluhan itu disampaikan sejumlah warga di Kecamatan Ajung yang berharap pemerintah dapat menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau, terutama bagi lansia yang memiliki keterbatasan fisik.

Di Puskesmas Ajung, waktu tunggu pelayanan diperkirakan sekitar 15 menit pada kondisi normal. Namun, setelah dirujuk ke RSD dr. Soebandi Jember, pasien mengaku harus mengantre selama berjam-jam karena rumah sakit tersebut melayani pasien dari seluruh Kabupaten Jember sekaligus menjadi rumah sakit rujukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Salah seorang pasien, Zainah (69), warga Dusun Curah Kates, Desa Klompangan, Kecamatan Ajung, mengaku baru bersedia dibawa keluarganya ke Puskesmas Ajung setelah kondisi kesehatannya menurun akibat diare. Selain itu, ia juga memiliki riwayat hipertensi.

“Saya terkadang malas periksa ke puskesmas atau rumah sakit karena antreannya sering panjang dan lama. Jadi kalau sakit, lebih baik dirawat di rumah. Ini saja saya dipaksa anak-anak ke Puskesmas Ajung karena badan sudah lemas. Mungkin ada solusi dari pemerintah atau Pak Bupati supaya pelayanan untuk lansia bisa lebih mudah,” ujar Zainah saat ditemui di ruang rawat inap Puskesmas Ajung, Senin (13/7/2026).

Keluhan serupa juga disampaikan keluarga Gimun (78), warga Dusun Langsatan, Desa Sukamakmur, Kecamatan Ajung. Gimun yang memiliki riwayat penyakit menahun datang ke Puskesmas Ajung didampingi istrinya, Sutik (70), dan anaknya, Ita (40).

Ita mengatakan proses mengajak ayahnya berobat tidak mudah karena orang tuanya sudah telanjur beranggapan bahwa pemeriksaan kesehatan selalu membutuhkan waktu yang lama.

Selain itu, keterbatasan sarana transportasi juga menjadi kendala.

“Bapak saya sudah lama sakit dan usianya juga sudah sepuh. Selama ini jarang kontrol karena antreannya lama,” kata Ita saat ditemui di ruang tunggu Puskesmas Ajung.

Kendala tidak memiliki kendaraan pribadi, lanjut Ita, juga menjadi alasan keluarganya jarang membawa Gimun berobat ke puskesmas.

“Kami juga tidak punya kendaraan, sementara bapak tidak bisa naik sepeda motor. Sekarang kami antar karena memang harus kontrol. Harapan kami, kalau bisa ada pelayanan kesehatan yang datang ke rumah atau ambulans keliling untuk membantu lansia yang kesulitan berobat,” katanya.

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Puskesmas Ajung, dr. Nur Rakhman Ahadi, mengatakan penyakit kronis yang saat ini menjadi perhatian utama di wilayah kerjanya adalah hipertensi dan diabetes melitus.

Kedua penyakit tersebut merupakan program prioritas nasional karena berpotensi memicu berbagai komplikasi serius apabila tidak dikendalikan.

“Diabetes sering disebut sebagai ibu dari segala penyakit karena dapat menyebabkan stroke, memperparah hipertensi, hingga serangan jantung apabila tidak ditangani dengan baik,” ujar dr. Rakhman.

Menurut Rakhman, penderita diabetes dan hipertensi tetap dapat menjalani aktivitas secara normal selama disiplin menjalani pengobatan dan menerapkan pola hidup sehat.

“Kalau diobati dengan baik, komplikasi bisa dicegah. Memang penyakitnya tidak bisa sembuh total, tetapi bisa dikendalikan sehingga pasien tetap dapat hidup seperti orang sehat. Obat sekarang juga sudah praktis, cukup diminum satu kali sehari jika kondisinya sudah stabil,” jelasnya.

Ia menambahkan, tren penyakit kronis kini tidak hanya menyerang lansia, tetapi juga mulai ditemukan pada kelompok usia produktif. Di wilayah kerja Puskesmas Ajung, pasien diabetes bahkan sudah ditemukan pada usia sekitar 40 tahun.

Hingga saat ini, Rakhman menyebut terdapat sekitar 235 pasien penyakit kronis yang rutin menjalani pemantauan. Namun, jumlah sebenarnya diperkirakan lebih banyak karena masih ada masyarakat yang belum memeriksakan diri.

“Banyak masyarakat takut penyakitnya diketahui sehingga enggan datang ke fasilitas kesehatan. Padahal, semakin cepat diketahui, semakin mudah dikendalikan. Yang paling sulit justru mengubah pola hidup dan menjaga kedisiplinan minum obat,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan deteksi dini dan pengendalian penyakit kronis, Puskesmas Ajung menjalankan program Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) yang dilaksanakan setiap bulan.

Program tersebut melayani seluruh kelompok usia, mulai dari ibu hamil, bayi, anak-anak, hingga lansia.

“Harapan kami, masyarakat tidak menunggu sakit parah baru datang berobat. Dengan pemeriksaan rutin melalui Posyandu ILP, penyakit kronis bisa ditemukan lebih dini sehingga risiko komplikasi dapat ditekan,” pungkasnya./////////////

iklan warung gazebo