Menurut Winarno, sistem pembelajaran di Sekolah Rakyat menyesuaikan jenjang terakhir yang pernah ditempuh siswa. Mereka tidak harus mengulang pendidikan dari awal.
“Anak yang masuk Sekolah Rakyat disesuaikan dengan jenjang pendidikan sebelumnya. Jika putus sekolah saat kelas 3, tidak perlu mengulang dari kelas 1, tetapi bisa langsung melanjutkan sesuai jenjang terakhirnya,” jelasnya.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengaku bangga dengan semangat para siswa yang kembali melanjutkan pendidikan hingga berhasil lulus.
“Hari ini kita tidak hanya menyaksikan prosesi kelulusan. Kita menyaksikan anak-anak yang terus tumbuh, belajar, berkarya, dan mempersiapkan diri meraih masa depan yang lebih baik,” kata Ipuk.
Ipuk menegaskan Pemkab Banyuwangi akan terus memperluas akses pendidikan yang inklusif agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan belajar karena faktor ekonomi.
Menurutnya, berbagai program seperti Siswa Asuh Sebaya (SAS), Gerakan Daerah Angkat Anak Putus Sekolah (Garda Ampuh), Banyuwangi Cerdas, hingga pendampingan anak putus sekolah akan terus diperkuat.
“Sekolah Rakyat ini semakin melengkapi berbagai program pendidikan yang telah dijalankan Banyuwangi,” ujarnya.
Saat ini Sekolah Rakyat Banyuwangi menempati dua lokasi sementara, yakni Balai Diklat Pemkab Banyuwangi di Kecamatan Licin dan BPVP Muncar. Total terdapat 88 siswa yang terdiri dari 48 siswa jenjang SD dan 40 siswa jenjang SMA.
Di sisi lain, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum tengah membangun gedung Sekolah Rakyat Terintegrasi di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, di atas lahan seluas 7 hektare milik Pemkab Banyuwangi. Nantinya seluruh siswa Sekolah Rakyat akan dipusatkan di lokasi tersebut setelah pembangunan rampung. (*)










