Selama empat hari proses asesmen, kedua evaluator meninjau berbagai geosite dan lokasi pendukung pengelolaan geopark. Pada hari pertama, mereka mengunjungi Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen (PIGGI), Desa Adat Kemiren, hingga sejumlah sentra ekonomi kreatif di Banyuwangi.
Agenda kemudian berlanjut ke kawasan Alas Purwo dan Teluk Pangpang di Grajagan yang menjadi bagian penting bentang alam serta ekosistem Geopark Ijen.
Sebelum memulai penilaian lapangan, kedua asesor disambut dalam welcoming dinner di Pendopo Sabha Swagata pada Minggu (2/8/2026). Acara tersebut turut dihadiri Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid, perwakilan Bappenas, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Salah satu asesor, Dr. Andreas Schüller, mengaku terkesan dengan lanskap Banyuwangi yang ia saksikan selama perjalanan kereta api dari Surabaya menuju Banyuwangi.
“Kami mendapatkan gambaran awal tentang wilayah Anda yang sangat luar biasa ini. Pemandangan yang indah, ladang-ladang, tanaman, perkebunan kopi, dan di balik awan, dalam remang-remang kami bisa melihat beberapa gunung besar,” ujarnya.
Andreas juga menilai Banyuwangi telah menunjukkan keseriusan dalam mengelola Geopark Ijen sejak memperoleh pengakuan UNESCO tiga tahun lalu. Menurutnya, konsep geopark tidak hanya berfokus pada perlindungan warisan geologi, tetapi juga harus mampu menghubungkan aspek pendidikan, pelestarian budaya, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Geopark bukan hanya tentang geologi, tetapi juga tentang masyarakat, di mana masyarakat menjadi aktornya. Saya melihat komitmen yang kuat dari Ibu Bupati dan seluruh pihak dalam hal ini. Itu adalah awal yang sempurna dalam misi evaluasi ini,” katanya.///////////










