ARCI: Persaingan Cagub Jatim Masih Terbuka, Generasi Muda Jadi Penentu.

by -3 Views
Wartawan: Ady Prayitno
Editor: Herry W. Sulaksono
aston banyuwangi

*Kedua*, munculnya Lia Istifhama sebagai peraih suara terbanyak kedua menjadi catatan penting. Dengan elektabilitas 17,5 persen, capaian itu dinilai signifikan mengingat Lia bukan kepala daerah aktif.
Ini menunjukkan mulai terbentuknya basis dukungan serta tingkat pengenalan yang kuat di kalangan generasi muda. Komunikasi publik, aktivitas organisasi, dan kedekatan dengan kelompok muda menjadi faktornya,” kata Nanang.

*Ketiga*, Eri Cahyadi berada di posisi ketiga dengan 10,3 persen. ARCI menilai popularitas sebagai kepala daerah di kota terbesar di Jatim belum otomatis berbanding lurus dengan dukungan di level provinsi. Perluasan pengaruh politik ke luar daerah asal masih menjadi tantangan bagi sejumlah kepala daerah.

Untuk kelompok kandidat papan tengah, persaingan masih sangat terbuka. Selisih elektabilitas Ahmad Fauzi, Muhammad Fawait, Muhammad Nur Arifin, Yuhronur Efendi, dan Aditya Halindra masih tipis dan berpotensi berubah. ARCI juga mengingatkan hasil kelompok ini masih berada dalam margin of error ±2,8 persen, sehingga belum tentu mencerminkan perbedaan kekuatan politik yang signifikan secara statistik.

Sementara itu, 11,3 persen responden masih memilih nama lain atau belum menentukan pilihan. Angka ini menunjukkan ruang kompetisi menuju Pilgub Jatim 2029 masih sangat dinamis.

“Survei ini memberi pesan bahwa generasi muda Jawa Timur mulai membentuk preferensi politiknya jauh sebelum tahapan Pilgub dimulai. Mereka tidak hanya mempertimbangkan popularitas, tetapi juga melihat rekam jejak, kedekatan dengan publik, dan kemampuan figur dalam membangun komunikasi,” kata Nanang.

Meski unggul, posisi Emil Dardak belum bisa dianggap aman.
“Angka 32,1 persen belum dapat dianggap sebagai posisi yang aman karena mayoritas pemilih muda masih berada di luar basis dukungannya,” tegasnya.

Nanang juga menyoroti kemunculan Lia Istifhama.
“Lia Istifhama menjadi salah satu kejutan dalam survei ini. Sebagai figur yang bukan kepala daerah aktif, elektabilitasnya mampu menempati posisi kedua. Ini menunjukkan bahwa peta politik Jawa Timur mulai mengalami regenerasi dan publik mulai memberi ruang kepada figur-figur alternatif,” tuturnya.

Menutup paparannya, Nanang menegaskan Pilgub Jawa Timur 2029 berpotensi ditentukan oleh figur yang mampu membangun kedekatan dengan generasi muda.(*/ady)

iklan warung gazebo