“Sampah yang sudah ada harus kita tangani, termasuk pencegahan ke depan. Mari kelola sampah dengan baik dan tidak membuangnya sembarangan, karena dampak buruknya,” tegasnya.
Ipuk juga meminta Dinas Lingkungan Hidup meningkatkan manajemen pengelolaan sampah di kawasan tersebut. Kesadaran masyarakat menjadi bagian penting agar sungai tidak kembali menjadi tempat pembuangan sampah.
“Saya juga meminta warga dengan kesadaran bersama agar bersedia mengikuti pengelolaan sampah yang baik, sehingga tidak lagi membuang sampah di sungai,” kata Ipuk.
Sementara itu, Community Coordinator Sungai Watch, Dewi Fatmawati, menjelaskan bahwa timnya menyasar pembersihan sepanjang 800 meter aliran Sungai Kalimati. Sampai Rabu, sekitar 700 meter telah ditangani, sedangkan 100 meter sisanya berada di kawasan muara.
“Selama dua hari, sampah yang berhasil kami kumpulkan mencapai lebih dari 15 ton. Mayoritas didominasi sampah rumah tangga non-organik,” ujar Dewi.
Sampah yang terkumpul kemudian diangkut ke TPS3R Karetan untuk penanganan lebih lanjut. Kondisinya telah terkontaminasi sehingga tidak memungkinkan untuk didaur ulang.
Bagi nelayan setempat, persoalan sampah di sungai dan kawasan perairan bukan sekadar urusan kebersihan. Tumpukan sampah juga berdampak pada aktivitas mencari ikan.
Mohammad Razak Cahyono, salah seorang nelayan setempat, mengatakan sampah yang memenuhi perairan membuat hasil tangkapan sulit diperoleh, meskipun sedang memasuki musim ikan.
“Meskipun sedang musim ikan, hasil tangkapan menjadi susah didapat karena ikan enggan mendekat ke perairan yang penuh sampah. Kami sangat mendukung langkah-langkah yang dilakukan saat ini,” kata Razak. (*)










