Di Kecamatan Donomulyo, distribusi tercatat mencapai 292.200 liter ke Desa Sumberoto dan 30.000 liter ke Desa Tulungrejo.
Untuk Kecamatan Kalipare, distribusi kumulatif mencapai 68.400 liter ke Desa Kalirejo, 100.000 liter ke Desa Sumberpetung, 67.000 liter ke Desa Putukrejo, serta 20.000 liter ke Desa Arjosari.
Sedangkan di Kecamatan Pagak, Desa Sumberejo telah menerima 130.000 liter dan Desa Pagak sebanyak 52.800 liter.
Dengan demikian, total distribusi air bersih sejak 8 Agustus hingga 30 September 2026 mencapai 3.324.950 liter.
Sadono menegaskan, BPBD tidak hanya melakukan pengiriman air, tetapi juga memperkuat pemantauan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih.
“Monitoring terus kami lakukan melalui koordinasi dengan wilayah kecamatan, desa, serta unsur terkait. Posko juga tetap siaga 24 jam dalam dua shift untuk menghadapi kondisi kekeringan dan potensi kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
Selain persoalan kekeringan, BPBD Kabupaten Malang juga melakukan koordinasi terkait potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Pegunungan Kawi bersama Pos Lapang Merkusi Precet Sumbersuko, Kecamatan Wagir.
Hingga periode pemantauan Rabu malam pukul 20.00 WIB hingga Kamis pagi pukul 08.00 WIB, tidak terdapat kejadian bencana yang dilaporkan.
Kondisi cuaca Kabupaten Malang pada periode tersebut terpantau cerah. Prakiraan BMKG menunjukkan suhu berada pada kisaran 21–26 derajat Celsius, kelembapan 91–95 persen, dengan kecepatan angin 2–7 kilometer per jam dari arah tenggara.
Selain penanganan kekeringan dan karhutla, personel BPBD juga memberikan dukungan terhadap kegiatan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI di Pondok Pesantren An Nur II Ar Murtadlo, Kecamatan Bululawang.
Dalam pelaksanaan penanganan kekeringan, BPBD Kabupaten Malang melibatkan sejumlah unsur, di antaranya PMI Kabupaten Malang, Damkar Kabupaten Malang, PJT I Karangkates, Perumda Tirta Kanjuruhan, AMCF, perangkat desa, Puskesmas Sitiarjo, Buana Solusindo, dan Marva Telekomunikasi.
Posko BPBD juga tetap menjalankan monitoring terhadap 33 kecamatan melalui perangkat radio komunikasi repeater VHF/UHF, internet, SMS, WhatsApp, serta layanan call center.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan informasi mengenai kondisi wilayah, kebutuhan air bersih, serta potensi bencana dapat segera diterima dan ditindaklanjuti oleh petugas di lapangan.///////////////












