Menurutnya, salah satu tujuan simulasi adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan siswa, guru, serta warga sekolah dalam menghadapi gempa bumi melalui pemahaman prosedur keselamatan dan evakuasi yang tepat.
Selain itu, kegiatan ini juga melatih kesiapsiagaan dan respons cepat seluruh unsur sekolah agar mampu bertindak secara terkoordinasi, efektif, dan tidak panik.
“Kegiatan ini bertujuan mendorong terbentuknya budaya sadar bencana serta memperkuat kolaborasi antara sekolah, masyarakat, dan FPRB dalam upaya pengurangan risiko bencana secara berkelanjutan,” ujar relawan asal Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, dalam rilis yang dikirim Senin (27/4/2026).
Sementara itu, Kurniawan, tim fasilitator simulasi FPRB, menuturkan bahwa sasaran kegiatan adalah guru, tenaga pendidik, lembaga pendidikan TK dan SMP, serta para siswa.
Lokasi simulasi dipilih di Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, karena termasuk kawasan rawan bencana, khususnya gempa bumi.
Kecamatan Pesanggaran berada dekat zona subduksi aktif di Samudera Hindia, sehingga berpotensi mengalami guncangan gempa yang dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa dapat diprediksi secara pasti.
“Kondisi ini menuntut adanya upaya sistematis dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sejak dini, termasuk pada kelompok rentan seperti anak-anak usia sekolah,” terang Kurniawan.










