“Kalau embung dan saluran irigasi dijaga bersama, manfaatnya akan dirasakan oleh semua. Sebaliknya, jika diabaikan, dampaknya juga akan dirasakan masyarakat sendiri, terutama para petani,” katanya.
Momentum Bulan Suro, lanjut Joko, juga dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi antara Dinas PU Pengairan Banyuwangi, petugas lapangan, HIPPA, GHIPPA, dan kelompok tani. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi kunci agar pengelolaan air berjalan efektif dan mampu menjawab tantangan perubahan musim.
“Kami ingin tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan budaya atau spiritual semata, tetapi juga menjadi sarana edukasi bahwa air adalah aset yang harus dijaga bersama. Kesadaran itu penting agar fungsi Embung Lider tetap optimal dalam mendukung ketahanan pangan daerah,” ungkapnya.
Ia berharap semangat gotong royong yang terbangun melalui tasyakuran tahunan dapat terus dipertahankan. Dengan demikian, Embung Lider tidak hanya menjadi infrastruktur pengairan, tetapi juga simbol kebersamaan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air.
“Harapan kami, Embung Lider terus memberikan manfaat bagi masyarakat, menjaga produktivitas pertanian, serta menjadi warisan sumber daya air yang tetap lestari untuk generasi mendatang. Inilah makna utama yang ingin kami hadirkan melalui tasyakuran Bulan Suro setiap tahunnya,” pungkas Joko.










