Tasyakuran Embung Lider di Bulan Suro, Jadi Momentum Pentingnya Menjaga Sumber Air

by -19 Views
Wartawan: Teguh Prayitno
Editor: Herry W. Sulaksono
Tasyakuran Suro di Embung Lider
aston banyuwangi

Banyuwangi, seblang.com – Tradisi tasyakuran tahunan di Embung Lider, Kecamatan Srono, kembali digelar pada Bulan Suro. Di balik prosesi doa bersama yang telah menjadi agenda rutin tersebut, terselip pesan kuat tentang pentingnya menjaga sumber daya air sebagai penopang kehidupan masyarakat dan keberlangsungan sektor pertanian di Banyuwangi.

Kegiatan yang difasilitasi Dinas PU Pengairan Banyuwangi melalui Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Srono itu dihadiri para juru pengairan, Gabungan Himpunan Petani Pemakai Air (GHIPPA), Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA), kelompok tani, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar Embung Lider.



Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Srono, Joko Setiyono, mengatakan tasyakuran Bulan Suro merupakan tradisi yang terus dijaga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan air yang selama ini menjadi penopang aktivitas pertanian dan kehidupan masyarakat.

“Embung Lider bukan hanya bangunan penampung air. Di balik keberadaannya ada harapan ribuan petani yang menggantungkan kebutuhan air untuk mengairi sawah. Karena itu setiap Bulan Suro kami menggelar tasyakuran sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memohon agar embung tetap membawa manfaat bagi masyarakat,” ujar Joko.

Ia menjelaskan, Embung Lider memiliki fungsi strategis dalam sistem pengelolaan sumber daya air di wilayah Srono. Selain membantu menjaga ketersediaan air irigasi, embung juga berperan mendukung stabilitas pasokan air, terutama ketika debit sungai mulai menurun saat musim kemarau.

Menurut Joko, keberhasilan pengelolaan sumber daya air tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan infrastruktur. Yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran masyarakat untuk ikut merawat dan menjaga seluruh sarana pengairan.

“Kalau embung dan saluran irigasi dijaga bersama, manfaatnya akan dirasakan oleh semua. Sebaliknya, jika diabaikan, dampaknya juga akan dirasakan masyarakat sendiri, terutama para petani,” katanya.

Momentum Bulan Suro, lanjut Joko, juga dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi antara Dinas PU Pengairan Banyuwangi, petugas lapangan, HIPPA, GHIPPA, dan kelompok tani. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi kunci agar pengelolaan air berjalan efektif dan mampu menjawab tantangan perubahan musim.

“Kami ingin tradisi ini tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan budaya atau spiritual semata, tetapi juga menjadi sarana edukasi bahwa air adalah aset yang harus dijaga bersama. Kesadaran itu penting agar fungsi Embung Lider tetap optimal dalam mendukung ketahanan pangan daerah,” ungkapnya.

Ia berharap semangat gotong royong yang terbangun melalui tasyakuran tahunan dapat terus dipertahankan. Dengan demikian, Embung Lider tidak hanya menjadi infrastruktur pengairan, tetapi juga simbol kebersamaan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air.

“Harapan kami, Embung Lider terus memberikan manfaat bagi masyarakat, menjaga produktivitas pertanian, serta menjadi warisan sumber daya air yang tetap lestari untuk generasi mendatang. Inilah makna utama yang ingin kami hadirkan melalui tasyakuran Bulan Suro setiap tahunnya,” pungkas Joko.

iklan warung gazebo