Rekan-rekan sekamarnya langsung berupaya memberikan pertolongan. Soejadi dibopong ke tempat tidur sembari petugas kesehatan kloter dipanggil ke lokasi.
Tim medis segera datang setelah menerima laporan. Namun ketika pemeriksaan dilakukan, kondisi Soejadi sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Kabar wafatnya dengan cepat menyebar di kalangan jamaah Kloter 84. Suasana haru pun menyelimuti rombongan asal Banyuwangi tersebut.
Di mata sesama jamaah, Soejadi dikenal sebagai pribadi yang ramah, baik, dan bersemangat menjalani rangkaian ibadah haji. Karena itu, kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam.
Banyak jamaah menilai Soejadi memperoleh akhir kehidupan yang indah. Ia wafat di Tanah Suci, setelah menunaikan salat Subuh berjamaah.
Bagi sebagian umat Islam, meninggal dunia saat menjalankan ibadah haji merupakan kemuliaan yang diimpikan. Karena itu, selain duka, doa-doa terus mengalir untuk almarhum.
Petugas haji bersama pihak terkait telah menangani proses pemulasaraan dan administrasi sesuai ketentuan yang berlaku bagi jamaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi.
Sementara keluarga di Banyuwangi telah menerima kabar duka tersebut melalui koordinasi petugas kloter dan Kementerian Agama.
Kini, dari Banyuwangi hingga Tanah Suci, doa terus dipanjatkan untuk Soejadi. Subuh itu menjadi akhir perjalanan hidupnya di dunia, sekaligus awal perjalanan menuju keabadian. (*)











