Namun, tantangan justru ada pada kapasitas produksi. Untuk mengatasinya, para pengrajin mengandalkan gotong royong.
Widie menceritakan, ibunya yang juga pengrajin kini mengajak ibu-ibu sekitar untuk ikut terlibat.
“Sekarang dikerjakan bersama-sama. Mulai dari memotong bambu hingga merakit besek, semua ikut membantu,” katanya.
Pola produksi berbasis komunitas ini tak hanya mempercepat proses, tetapi juga membuka peluang penghasilan baru bagi warga sekitar.
Fenomena ini juga mencerminkan perubahan tren. Kenaikan harga plastik dan meningkatnya kesadaran lingkungan membuat masyarakat mulai beralih ke kemasan alami.
Di titik ini, Papring seperti menemukan momentumnya. Potensi bambu yang selama ini ada kini benar-benar menjadi kekuatan ekonomi.
Besek bambu pun tak lagi dipandang sebagai produk tradisional semata. Dari kampung kecil di Kalipuro, kemasan ini mulai menjawab kebutuhan zaman—ramah lingkungan, bernilai ekonomi, dan berbasis kearifan lokal. (*)










