Banyuwangi, seblang.com – Siapa sangka, kenaikan harga plastik justru menjadi berkah bagi warga Lingkungan Papring, Desa Kalipuro. Kawasan yang sejak lama dikenal dengan potensi kerajinan bambu ini kini “kebanjiran” pesanan besek.
Permintaan melonjak drastis dalam hitungan minggu. Tak sedikit pembeli yang harus rela antre, bahkan menerima sistem inden karena produksi belum mampu mengimbangi lonjakan pasar.
Tokoh setempat, Widie Nurmahmudy, mengatakan kondisi ini menjadi momentum bagi Papring yang selama ini dikenal sebagai kampung pengrajin bambu.
“Papring ini memang dari dulu punya potensi bambu yang melimpah. Sekarang terasa sekali dampaknya, pesanan meningkat tajam sampai harus inden,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).
Lonjakan permintaan datang dari berbagai wilayah di Banyuwangi. Bahkan, banyak pembeli membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali. Besek bambu kini tidak lagi sekadar pelengkap dapur, tetapi mulai dilirik sebagai komoditas usaha.
Kondisi tersebut turut mengerek harga. Dari sebelumnya sekitar Rp1.500 per buah, kini naik menjadi Rp2.500 di tingkat pengrajin. Meski harga meningkat, permintaan tetap tinggi—menandakan pasar sedang bergerak ke arah kemasan ramah lingkungan.
Di Papring, melimpahnya bambu menjadi keunggulan utama. Bahan baku mudah didapat, keterampilan warga telah terbentuk, dan kini didorong oleh kebutuhan pasar yang terus tumbuh.










