Potensi Kerajinan Bambu “Besek” Papring Banyuwangi Melejit di Tengah Mahalnya Plastik

by -22 Views
Wartawan: Teguh Prayitno
Editor: Herry W. Sulaksono
aston banyuwangi
aston banyuwangi

Banyuwangi, seblang.com  – Siapa sangka, kenaikan harga plastik justru menjadi berkah bagi warga Lingkungan Papring, Desa Kalipuro. Kawasan yang sejak lama dikenal dengan potensi kerajinan bambu ini kini “kebanjiran” pesanan besek.

Permintaan melonjak drastis dalam hitungan minggu. Tak sedikit pembeli yang harus rela antre, bahkan menerima sistem inden karena produksi belum mampu mengimbangi lonjakan pasar.

Tokoh setempat, Widie Nurmahmudy, mengatakan kondisi ini menjadi momentum bagi Papring yang selama ini dikenal sebagai kampung pengrajin bambu.

“Papring ini memang dari dulu punya potensi bambu yang melimpah. Sekarang terasa sekali dampaknya, pesanan meningkat tajam sampai harus inden,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Lonjakan permintaan datang dari berbagai wilayah di Banyuwangi. Bahkan, banyak pembeli membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali. Besek bambu kini tidak lagi sekadar pelengkap dapur, tetapi mulai dilirik sebagai komoditas usaha.

Kondisi tersebut turut mengerek harga. Dari sebelumnya sekitar Rp1.500 per buah, kini naik menjadi Rp2.500 di tingkat pengrajin. Meski harga meningkat, permintaan tetap tinggi—menandakan pasar sedang bergerak ke arah kemasan ramah lingkungan.

Di Papring, melimpahnya bambu menjadi keunggulan utama. Bahan baku mudah didapat, keterampilan warga telah terbentuk, dan kini didorong oleh kebutuhan pasar yang terus tumbuh.

Namun, tantangan justru ada pada kapasitas produksi. Untuk mengatasinya, para pengrajin mengandalkan gotong royong.

Widie menceritakan, ibunya yang juga pengrajin kini mengajak ibu-ibu sekitar untuk ikut terlibat.

“Sekarang dikerjakan bersama-sama. Mulai dari memotong bambu hingga merakit besek, semua ikut membantu,” katanya.

Pola produksi berbasis komunitas ini tak hanya mempercepat proses, tetapi juga membuka peluang penghasilan baru bagi warga sekitar.

Fenomena ini juga mencerminkan perubahan tren. Kenaikan harga plastik dan meningkatnya kesadaran lingkungan membuat masyarakat mulai beralih ke kemasan alami.

Di titik ini, Papring seperti menemukan momentumnya. Potensi bambu yang selama ini ada kini benar-benar menjadi kekuatan ekonomi.

Besek bambu pun tak lagi dipandang sebagai produk tradisional semata. Dari kampung kecil di Kalipuro, kemasan ini mulai menjawab kebutuhan zaman—ramah lingkungan, bernilai ekonomi, dan berbasis kearifan lokal. (*)

iklan warung gazebo