Salah seorang warga, Sri Lestari, mengakui bahwa meski CANTIK merupakan tagline dari Cerdas, Inovatif, dan Kreatif, baginya Ning Lia memang memiliki sosok yang cantik.
“Cantik dan baik orangnya. Selalu ramah dan senyum di mana pun,” kata Sri.
Jika “cantik” merupakan identitas sekaligus tagline, maka sebutan “humble” lahir dari pengalaman orang-orang yang bertemu langsung dengan Ning Lia. Salah satu contohnya terlihat ketika Lia berbaur dengan masyarakat Wonocolo, Surabaya.
Dalam sebuah kegiatan bersama warga, ia bahkan terlihat berjalan tanpa alas kaki atau nyeker. Tokoh masyarakat Wonocolo, H. Muhaimin, menggambarkan Ning Lia sebagai sosok yang sederhana dan tidak membuat jarak dengan masyarakat.
Pada September 2026, misalnya, Ning Lia mendatangi mahasiswa baru di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Masykuriyah, Wonocolo. Pertemuan tersebut tidak dikemas dalam suasana formal sebagai forum senator, tetapi lebih menyerupai percakapan antara seorang kakak dengan adik-adik mahasiswa.
Sebelumnya, pada Maret 2026, Lia juga melakukan silaturahmi dengan PC Fatayat NU Kota Surabaya. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan dialogis dengan pembahasan mengenai pemberdayaan perempuan.
Kesan serupa juga muncul dari rekam aktivitas Ning Lia sebelum maupun setelah menjadi senator. Radar Gresik menuliskan bahwa Ning Lia tetap membawa kebiasaan turun dan menyapa masyarakat meskipun telah memperoleh mandat sebagai anggota DPD RI.
Hal tersebut juga terlihat dalam aktivitas kunjungannya. Ning Lia aktif mendatangi berbagai wilayah di Jawa Timur untuk menyerap aspirasi masyarakat, termasuk persoalan pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan perempuan dan anak. Aspirasi tersebut kemudian dibawa ke ruang pembahasan DPD RI.
Bagi sebagian masyarakat, pola komunikasi seperti itulah yang kemudian membuat sapaan “humble” semakin melekat. Ada istilah lain yang menggambarkan karakter komunikasinya, yakni “wani mudhun ngisor”, atau berani turun ke bawah untuk menyapa masyarakat.
“Saya pernah lihat Ning Lia nyeker waktu jalan, ramah dan suka menyapa dulu,” kata Wiwik Setyowati, salah seorang warga Gresik. (*/ady)










