Korban Diduga Keracunan MBG di Jember Bertambah Jadi 22 Anak, Operasional Dapur Gizi Disuspensi Sementara

by -2 Views
Wartawan: Nur Imatus Safitri
Editor: Herry W. Sulaksono
Ketua Satgas MBG Jember sekaligus Sekda Jember Achmad Imam Fauzi bersama BPOM dan dinas terkait saat melakukan Sidak ke Dapur Gizi Al Mubarok Kaliwates Yayasan 88 Berkah, Kamis (21/5/2026).
aston banyuwangi
aston banyuwangi

Jember, seblang.com – Kasus dugaan keracunan usai mengonsumsi menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur, terus bertambah. Hingga Kamis (21/5/2026), jumlah korban tercatat mencapai 22 anak dari jenjang PAUD dan TK.

Para siswa mengalami gejala mual, muntah, sakit perut, hingga tubuh lemas beberapa jam setelah menyantap makanan yang didistribusikan oleh Dapur SPPG Al Mubarok Kaliwates Yayasan 88 Berkah.

Pemerintah Kabupaten Jember langsung melakukan penanganan serius atas insiden tersebut. Ketua Satgas MBG Jember sekaligus Pj Sekretaris Daerah Jember, Achmad Imam Fauzi, bersama BPOM dan dinas terkait melakukan inspeksi mendadak ke dapur penyedia makanan guna menelusuri penyebab kejadian.

Dari total korban, empat anak menjalani perawatan di RS Kaliwates, satu anak dirawat di Puskesmas Kaliwates, enam anak mendapat penanganan di Puskesmas Jember Kidul, sementara sisanya menjalani rawat jalan. Kondisi seluruh korban dilaporkan mulai membaik setelah mendapat penanganan medis.

Korban tambahan diketahui berasal dari TK Al-Hidayah 01 dan PAUD Qur’an Raudlatul Tulab. Program MBG dari dapur tersebut sebelumnya juga disalurkan ke sejumlah sekolah lain di wilayah Kaliwates.

Kepala SPPG Al Mubarok Kaliwates Yayasan 88 Berkah, Ahmad Farid Anam, mengatakan pihaknya langsung mengevakuasi siswa yang mengalami gejala keracunan ke fasilitas kesehatan setelah menerima laporan dari sekolah.

“Mulai kemarin sore kami langsung membagi tim untuk menjemput siswa yang mengalami mual dan muntah di sekolah, lalu membawa mereka ke RS Kaliwates maupun Puskesmas Jember Kidul. Alhamdulillah semuanya sudah ditangani dan sebagian besar menjalani rawat jalan,” ujar Farid saat dikonfirmasi di sela sidak di lokasi SPPG.

Ia mengatakan, seluruh biaya pengobatan korban yang tidak ditanggung BPJS telah ditanggung pihak mitra dapur sebagai bentuk tanggung jawab.

Farid menjelaskan menu MBG yang dibagikan saat kejadian berbeda antara porsi kecil dan porsi besar. Untuk siswa kategori porsi kecil disajikan ayam suwir bumbu kuning, tahu krispi, timun, dan buah jeruk. Sedangkan porsi besar menggunakan ayam suwir bumbu merah.

“Yang terdampak ini porsi kecil, ada di dua sekolah. Sementara porsi besar dengan ayam suwir bumbu merah tidak ada laporan terdampak,” katanya.

Meski demikian, Farid belum bersedia menyimpulkan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut. Menurutnya, seluruh sampel makanan telah dikirim ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut.

“Kami menunggu hasil laboratorium dari Labkesda dan juga pemeriksaan dari Reskrim. Dugaan sementara belum bisa dipastikan. Bisa saja faktor makanan, bisa juga faktor kondisi tubuh masing-masing anak. Jadi kami mohon menunggu hasil laboratorium agar tidak muncul fitnah,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan dapur MBG sementara disuspensi atau dihentikan operasionalnya berdasarkan arahan dari Badan Gizi Nasional (BGN) hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

Hari ini kami tidak beroperasi dan tidak melakukan distribusi makanan. Kami masih menunggu keputusan lebih lanjut,” katanya.

Sementara itu, Ketua Satgas MBG Jember, Achmad Imam Fauzi, menegaskan pemerintah daerah berpihak kepada korban dan meminta peristiwa serupa tidak terulang kembali.

“Faktanya ada korban, itu adalah fakta. Berarti ada sesuatu di hulunya. Persoalan teknis biar diproses, tetapi keselamatan harus diutamakan,” tegasnya.

Ia juga menyebut hasil sidak menemukan sejumlah catatan teknis di dapur MBG, salah satunya penempatan tabung gas di ruang tertutup yang dinilai berisiko terhadap keamanan dan higienitas.

“Saya menemukan ada gas di tempat tertutup. Seharusnya itu berada di luar ruangan. Ketika ada kebocoran gas, hal tersebut bisa menimbulkan persoalan,” ujarnya.

Selain itu, Satgas MBG bersama BPOM dan aparat kepolisian masih mendalami aspek higienitas dapur, sistem distribusi makanan, hingga kualitas bahan pangan yang digunakan. Sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan juga telah dikirim untuk diuji di laboratorium.

Fauzi memastikan hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar penentuan sanksi maupun langkah lanjutan terhadap pihak pengelola dapur MBG tersebut.

Sebelumnya diberitakan, kronologi kejadian bermula pada Rabu (20/5/2026) siang saat para siswa menerima paket MBG dari dapur penyedia. Beberapa jam setelah makanan dikonsumsi, sejumlah anak mulai mengeluhkan sakit perut, mual, muntah, hingga tidak mampu makan dan minum.

Pihak sekolah kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada pengelola dapur dan petugas kesehatan./////////

iklan warung gazebo