
“Langkah promotif, preventif, kuratif hingga rehabilitatif harus terus digaungkan dan diupayakan bersama. Ketika ada area yang siap ditanami kembali, maka langkah rehabilitatif harus segera dilakukan,” tegasnya.
Khofifah menjelaskan bahwa Jawa Timur terus memperkuat berbagai program lingkungan hidup, salah satunya melalui pengembangan kawasan mangrove. Berdasarkan data yang dimiliki, sekitar 51 persen luasan hutan mangrove di Pulau Jawa berada di Jawa Timur.
Menurutnya, mangrove memiliki peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim karena mampu menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar.
“Festival Mangrove sudah kami laksanakan selama tiga tahun terakhir. Ini bagian dari langkah promotif dan preventif yang terus kami lakukan bersama masyarakat, akademisi, komunitas lingkungan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Khofifah juga menyampaikan apresiasi atas antusiasme kalangan perguruan tinggi, komunitas pecinta lingkungan, pelajar, hingga masyarakat umum yang turut berpartisipasi dalam aksi lingkungan tersebut.
Menurutnya, gerakan lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi dan gotong royong seluruh elemen bangsa.
“Forum hari ini sangat penting karena melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas lingkungan hingga Forkopimda yang bersama-sama melakukan aksi bersih lingkungan dan penanaman pohon,” ujarnya.
Selain penguatan gerakan masyarakat, Pemprov Jawa Timur juga terus mendorong percepatan pengelolaan sampah melalui pengembangan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Khofifah menjelaskan, berdasarkan arahan Kementerian Lingkungan Hidup, kawasan pengolahan sampah terpadu idealnya mampu menangani sekitar 1.000 ton sampah per hari. Sejumlah wilayah seperti Surabaya Raya dan Malang Raya telah memenuhi kapasitas tersebut.
Namun demikian, Pemprov Jawa Timur mengusulkan agar kawasan dengan kapasitas sekitar 500 ton sampah per hari, seperti Mataraman Raya dan Kediri Raya, juga dapat masuk dalam skema pengembangan PSEL mengingat kebutuhan penanganan sampah yang terus meningkat.
“Kami berharap tindak lanjut dari komitmen yang telah ditandatangani bersama Kementerian Lingkungan Hidup dapat segera berjalan sehingga pembangunan fasilitas pengolahan sampah dapat dipercepat,” katanya.
Khofifah juga menyoroti keberhasilan sekolah-sekolah di Jawa Timur dalam membangun budaya peduli lingkungan melalui Program SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan).
“Saat ini sudah sulit menemukan tumpukan sampah di area belakang SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta di Jawa Timur. Area yang sebelumnya menjadi tempat penumpukan sampah kini berubah menjadi kebun sayur, kebun buah, perikanan, hingga peternakan sederhana sebagai bagian dari Program SIKAP,” ungkapnya.
Program tersebut menjadi sarana pembelajaran bagi siswa untuk membangun kesadaran lingkungan, ketahanan pangan, dan keterampilan produktif sejak dini.
Melalui berbagai langkah tersebut, Khofifah optimistis semangat menjaga lingkungan hidup akan semakin mengakar di tengah masyarakat.
“Dengan kolaborasi, gotong royong, dan kesadaran bersama, kita optimistis dapat mewujudkan Indonesia yang aman, sehat, bersih, dan indah serta Jawa Timur yang semakin hijau dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup RI, Jumhur Hidayat, mengapresiasi berbagai langkah yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah dalam pengelolaan sampah dan penanaman mangrove secara terintegrasi.
Menurutnya, berbagai program yang dijalankan Jawa Timur dapat menjadi contoh bagi provinsi lain di Indonesia.
“Saya merasa tertantang untuk datang ke Jawa Timur melihat pengelolaan sampah di Jatim. Semoga pengelolaan sampah dan lingkungan di Jatim bisa menjadi contoh bagi provinsi lain di Indonesia,” tutupnya. (ady)










