Di tengah aktivitas kandang, rasa syukur juga datang dari para penerima manfaat. Tutik Handayani, salah satu nasabah PNM Mekaar Banyuwangi, mengaku merasakan perubahan nyata sejak bergabung dalam program ini.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari program ini. Kami senang bisa merawat ayam bersama. Dulu kami hanya membeli telur, sekarang kami bisa panen sendiri, bahkan bisa dijual untuk tambahan penghasilan. Terima kasih PNM yang sudah membantu kami,” ungkapnya.
Pemimpin Cabang PNM Banyuwangi, Sugiyati Nurul Hadayani menyampaikan bahwa program ini berangkat dari keyakinan bahwa desa memiliki potensi besar dalam membangun ketahanan pangan di tingkat lokal.
“Kami melihat potensi ketahanan pangan di desa sangat besar. Karena itu, kami hadir melalui program peternakan ayam petelur untuk mendorong kemandirian ekonomi sekaligus pemenuhan gizi masyarakat lokal,” jelasnya.
Lebih dari sekadar program, kehadiran program ketahanan pangan ayam petelur menjadi gambaran bagaimana pemberdayaan dapat tumbuh dari hal-hal sederhana dari kandang kecil, dari telur yang dipanen setiap hari, hingga dari kebersamaan yang terus dijaga. Karena pada akhirnya, bukan hanya telur yang dihasilkan dari kandang-kandang itu melainkan juga masa depan yang mulai disusun, satu butir harapan dalam setiap hari yang terus diperjuangkan.///////










