“Warga yang sebelumnya sudah mendapatkan pelayanan kemudian menceritakan pengalamannya kepada orang di sekitarnya. Dari situ, semakin banyak masyarakat yang bertanya tentang pelayanan BPJS Kesehatan, baik melalui WhatsApp, telepon, maupun dengan datang langsung ke kantor desa,” jelasnya.
Salah satu pengalaman yang berkesan bagi Sugiono adalah ketika mendampingi seorang ibu hamil yang kepesertaan JKN-nya tidak aktif, sementara waktu persalinannya sudah dekat. Saat itu, ibu tersebut berada di puskesmas dan bersiap mendapatkan rujukan ke rumah sakit.
“Kami paling ingat kejadian itu karena berlangsung sehari sebelum Lebaran tahun 2026. Kami berusaha membantu pengaktifan kepesertaannya dan mendapat respons tanggap dari tim Kepesertaan BPJS Kesehatan Cabang Banyuwangi. Dukungan tersebut membuat kami lebih tenang dalam mendampingi warga karena tahu ada tim yang siap membantu ketika menghadapi kendala,” ungkap Sugiono.
Pengalaman itu memperlihatkan kepada Sugiono bahwa persoalan kepesertaan bukan sekadar urusan administrasi. Bagi warga yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan, informasi yang tepat dan pendampingan untuk mengurus kepesertaan dapat menjadi hal yang sangat berarti.
Bagi Sugiono, dukungan koordinasi tersebut menjadi bagian penting dalam menjalankan perannya di desa. Ia berharap kerja sama antara pemerintah desa dan BPJS Kesehatan dapat terus terjaga sehingga masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi serta pendampingan kepesertaan JKN.
“Kami berharap Program Agen Pesiar bisa terus berlanjut dan semakin banyak warga yang memahami pentingnya JKN. Bagi yang belum terdaftar, semoga segera mendapatkan informasi untuk mendaftar, sedangkan warga yang kepesertaannya tidak aktif bisa mengetahui langkah yang perlu dilakukan. Kita tidak pernah tahu kapan membutuhkan pelayanan kesehatan, sehingga penting untuk mempersiapkan perlindungan sejak awal,” pungkasnya. /////////












