Momentum Hari Santri, Ning Lia: Jadikan Nilai Islam sebagai Kekuatan Peradaban

by -6 Views
Wartawan: Ady Prayitno
Editor: Herry W. Sulaksono
Dr. Hj. LIA ISTIFHAMA, S.Sos., S.H.I., S.Sos., I.M.E.I Anggota DPD/MPR RI Provinsi Jawa Timur.
aston banyuwangi

Surabaya, seblang.com – Momentum Hari Santri menjadi pengingat pentingnya peran generasi muda dalam membangun peradaban Islam yang berkemajuan. Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengajak mahasiswa menjadikan nilai-nilai Islam sebagai kekuatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, memperkuat karakter, serta mendorong kemajuan pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial.

Pesan tersebut disampaikan Ning Lia, sapaan akrab Lia Istifhama, saat menjadi narasumber Islamic Talkshow bertajuk Membangun Peradaban dari Timur: Kontribusi Nilai-Nilai Islam bagi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara di Gedung Pertemuan R.P. Mohammad Noer, Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Rabu (21/10/2026).



Kegiatan yang dimoderatori Moh Miqdad Ilmi tersebut turut dihadiri perwakilan Gubernur Jawa Timur, yakni Kepala BPSDM Jatim Dr. Ramliyanto S.; anggota DPRD Jawa Timur, Lora Nasih Aschal; Dekan Fakultas Keislaman UTM, Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I.; Wakil Dekan I, Dr. Firman Setiawan, S.H.I., M.E.I.; Wakil Dekan II, Muhammad Ersya Faraby, S.E.I., M.SEI.; dan Wakil Dekan III, Fajar, S.H.I., M.H. Hadir pula para dosen Fakultas Keislaman serta jajaran pengurus organisasi mahasiswa (Ormawa).

Dalam forum tersebut, Ning Lia menegaskan bahwa membangun peradaban dari Timur bukan sekadar mengenang kejayaan Islam pada masa lalu. Lebih dari itu, diperlukan upaya menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam agar mampu menjawab tantangan zaman dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Salah satu materi yang dibahas ialah konsep benevolent society, yakni masyarakat yang mengedepankan kebaikan bersama dan kemanfaatan sosial. Menurut gagasan yang dipaparkan, peradaban yang kuat tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas ilmu pengetahuan, karakter, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama.

Ning Lia turut menjelaskan tiga pendekatan epistemologi Islam, yaitu bayani, irfani, dan burhani. Pendekatan bayani bertumpu pada teks, irfani menekankan pengalaman spiritual, sedangkan burhani mengedepankan penalaran dan pembuktian rasional.

“Ketiganya dapat menjadi pijakan untuk membangun tradisi keilmuan yang memadukan nilai agama, kedalaman spiritual, dan rasionalitas. Pembahasan ini juga berkaitan dengan gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi,” katanya.

Dalam pemaparannya, Ning Lia mengulas sejarah kejayaan peradaban Islam, termasuk perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Dinasti Abbasiyah melalui Baitul Hikmah. Sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan peradaban membutuhkan tradisi belajar, pertukaran pengetahuan, serta keterbukaan terhadap pemikiran.

Ia juga mengaitkan pemikiran Imam Al-Ghazali mengenai hubungan sosial dan pembagian kerja dengan gagasan Adam Smith tentang ketergantungan antarmanusia dalam memenuhi kebutuhan hidup.

“Keduanya menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa kehidupan masyarakat dibangun melalui hubungan dan kerja sama. Setiap orang memiliki peran yang saling melengkapi sehingga kemajuan membutuhkan solidaritas, tanggung jawab, dan kepedulian sosial,” jelasnya.

Keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tersebut juga menyoroti pentingnya demokrasi substantif dan meritokrasi. Demokrasi, menurut materi yang disampaikan, tidak cukup berhenti pada prosedur politik, tetapi perlu diwujudkan melalui keadilan, kesempatan yang setara, dan penghargaan terhadap kemampuan seseorang.

iklan warung gazebo