Madiun, seblang.com – Rintisan Desa Wisata Klangon, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, menjadi tuan rumah Jambore Pariwisata Minat Khusus 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini diikuti 50 peserta dari berbagai pemangku kepentingan industri pariwisata minat khusus di Kabupaten Madiun.
Peserta berasal dari berbagai unsur, mulai dari pengelola pendakian Gunung Pandan dan Gunung Wilis, Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Kabupaten Madiun, pengelola homestay Desa Klangon, hingga pengelola wisata kebugaran atau wellness tourism. Hadir pula pilot paralayang, pengelola transportasi paralayang, pelaku industri kuliner Desa Klangon, serta pemerhati ekowisata.
Mengusung semangat kolaborasi dan aksi nyata, jambore ini tidak sekadar menjadi ajang pertemuan para pelaku pariwisata. Kegiatan tersebut dirancang untuk menampung aspirasi peserta, memetakan potensi dan kendala, serta merumuskan langkah bersama dalam mengembangkan pariwisata minat khusus yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat di Kabupaten Madiun.
Dalam sesi malam sarasehan, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Madiun, Puji Rahmawati, hadir sebagai narasumber utama. Ia memaparkan pergeseran tren pariwisata nasional dari mass tourism menuju Community Based Tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat.
Menurut Puji, wisatawan modern kini cenderung mencari destinasi yang menawarkan aktivitas dan pengalaman autentik. Wisata tidak lagi sekadar melihat objek atau berburu lokasi swafoto, tetapi juga memberikan pengalaman yang berkesan sekaligus manfaat bagi masyarakat setempat.
“Pariwisata tidak melulu tentang sarana dan prasarana. Pariwisata yang baik adalah yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” terang Puji Rahmawati kepada seblang.com, Rabu (15/10/2026).
Ia menambahkan, pengembangan pariwisata minat khusus perlu diarahkan pada produk-produk yang memiliki karakter dan daya tarik tersendiri, seperti sport tourism dan wellness tourism. Dalam pengembangannya, masyarakat harus ditempatkan sebagai pelaku utama, bukan sekadar penerima manfaat.
“Pariwisata berkelanjutan sudah sejalan dengan arah program kami di Disparpora. Konsep tersebut relatif efisien dan dapat memberikan dampak langsung terhadap masyarakat lokal,” ungkap Puji.
Pendekatan pariwisata berbasis masyarakat tersebut dinilai relevan untuk diterapkan, terutama di kawasan Selingkar Wilis. Selain membuka peluang ekonomi bagi warga, konsep ini juga memungkinkan pengembangan destinasi dengan mengoptimalkan potensi lokal tanpa selalu bergantung pada investasi infrastruktur berskala besar.
Dalam jambore tersebut, pembahasan potensi dan tantangan pariwisata minat khusus mengacu pada empat pilar utama, yakni atraksi atau daya tarik wisata, amenitas atau fasilitas pendukung, akomodasi, serta hospitality yang berkaitan dengan keramahan dan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Desa Klangon dan wilayah sekitarnya dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan keempat pilar tersebut. Dari sisi atraksi, salah satu daya tarik unggulannya adalah Bukit Watu Bayang yang dikenal sebagai lokasi olahraga paralayang.
Lokasi tersebut pernah digunakan untuk sejumlah kejuaraan, termasuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2023 dan Bupati Cup. Dengan ketinggian bukit sekitar 100 meter, lokasi ini menawarkan pengalaman terbang bagi penerbang paralayang, dengan ketinggian penerbangan yang dapat mencapai sekitar 300 meter dari permukaan tanah, bergantung pada kondisi penerbangan.
“Para penerbang akan disuguhkan sensasi adrenalin saat melayang hingga ketinggian 300 meter dari permukaan tanah. Empat pilar wisata tersebut menjadi aspek penting dalam pengembangan destinasi, termasuk untuk mendukung potensi yang diangkat dalam Jambore Pariwisata tahun ini,” tambah Puji.
Selain paralayang, Kabupaten Madiun memiliki potensi pendakian Gunung Pandan dan Gunung Wilis. Wisata edukasi berbasis tanaman porang juga menjadi peluang yang dapat dikembangkan untuk memperkaya pengalaman wisatawan.
Desa Klangon sendiri dikenal sebagai salah satu sentra produksi porang terbesar di Indonesia. Potensi tersebut dapat dipadukan dengan wisata alam dan edukasi untuk menghadirkan pengalaman yang lebih beragam bagi pengunjung.
Meski memiliki potensi alam dan aktivitas wisata yang beragam, jambore ini juga mengidentifikasi sejumlah tantangan, terutama pada aspek amenitas, akomodasi, dan hospitality.
Desa Klangon telah memiliki sekitar 20 homestay serta sejumlah fasilitas pendukung. Namun, peningkatan kualitas dan standardisasi layanan masih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan minat khusus yang mengutamakan pengalaman mendalam, kenyamanan, dan keamanan.
Ketersediaan SDM yang terampil dan terlatih di bidang pelayanan wisata juga menjadi perhatian. Peningkatan kapasitas pengelola dan pelaku usaha lokal dinilai penting agar potensi destinasi dapat diimbangi dengan kualitas pelayanan yang memadai.
Jambore ini tidak berhenti pada diskusi dan pemaparan materi. Peserta juga mengikuti simulasi kerja kelompok menggunakan kerangka Input-Process-Output-Outcome-Impact/Goal. Melalui pendekatan tersebut, peserta diajak memetakan potensi, mengidentifikasi kendala, serta menyusun rencana aksi konkret.
Kegiatan ini juga mencakup pemetaan pemangku kepentingan dan pihak-pihak penghubung yang dapat mempercepat pengembangan pariwisata minat khusus di Kabupaten Madiun.
Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan turut diterapkan selama pelaksanaan jambore melalui konsep Zero Plastic. Seluruh peserta diwajibkan membawa tumbler dan gelas pribadi, sedangkan penyajian makanan dan minuman selama acara tidak menggunakan plastik sekali pakai.
Penerapan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi sampah plastik sekaligus mendorong praktik pariwisata yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Dengan keterlibatan 50 peserta dari berbagai unsur industri pariwisata, Jambore Pariwisata Minat Khusus 2026 di Desa Klangon menjadi ruang kolaborasi untuk menyelaraskan potensi alam, kesiapan fasilitas, kualitas pelayanan, dan peran masyarakat dalam pengembangan destinasi wisata Kabupaten Madiun. (ADV)












