Bupati juga menyampaikan bahwa kegiatan ODL tidak harus dilaksanakan ke luar daerah apabila biaya yang dibutuhkan cukup besar. Sekolah dapat memilih lokasi yang lebih dekat dengan tetap memperhatikan tujuan kegiatan pembelajaran.
“Kalau ODL ini mengganggu dan memberatkan Bapak-Ibu wali murid, lebih baik ODL tidak usah jauh-jauh. Sudah ODL di alun-alun atau di destinasi wisata yang ada di Sidoarjo, jalan-jalan,” katanya.
Subandi mencontohkan laporan mengenai kegiatan ODL siswa SMP ke Malang yang membutuhkan biaya lebih dari Rp1 juta untuk kegiatan selama dua hari.
“Acara di Malang, ODL anak SMP, dikenakan satu juta berapa, dua hari. Ini tidak boleh,” tegasnya.
Untuk itu, Subandi meminta Dispendikbud bersama jajaran sekolah menindaklanjuti evaluasi pelaksanaan ODL agar kegiatan sekolah tetap berjalan sesuai ketentuan serta memperhatikan kondisi ekonomi wali murid.
Selain biaya kegiatan, Subandi juga meminta sekolah memberikan kesempatan yang terbuka dalam penggunaan jasa transportasi. Sekolah tidak diminta terpaku pada penyedia kendaraan tertentu selama kendaraan yang digunakan memenuhi aspek keselamatan dan kelayakan.
“Masyarakat Sidoarjo banyak yang punya bus, pakai itu kalau busnya bagus. Tidak usah ada intervensi bus dan yang lainnya,” ujarnya.
“Kondisi ekonomi seperti ini, mari kita lihat dampaknya kepada masyarakat, yang dirasakan oleh masyarakat. Jangan sebentar-sebentar ODL, ternyata masih ada warga yang komplain,” pungkasnya. (hst)










