Blitar, seblang.com – Tradisi bersih desa kembali menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat di Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Tahun ini, Pemerintah Desa Rejowinangun mengangkat tema “Merajut Kebersamaan dengan Ketulusan” dalam rangkaian kegiatan bersih desa yang digelar selama lima hari berturut-turut.
Kepala Desa Rejowinangun, Bhagas Waskito, mengatakan tema tersebut dipilih sebagai ajakan kepada seluruh masyarakat agar terus menjaga kekompakan dan semangat gotong royong dalam kehidupan sosial maupun pembangunan desa.
Menurutnya, kebersamaan antara masyarakat dan seluruh kelembagaan desa menjadi modal penting untuk mewujudkan desa yang lebih maju, aman, dan tenteram.
“Melalui bersih desa ini kami ingin membangun kebersamaan masyarakat dengan kelembagaan desa. Jadi, seluruh elemen desa saling bahu-membahu, baik dalam kegiatan sosial kemasyarakatan maupun kegiatan yang bersifat pemerintahan desa,” ujarnya, Rabu (20/5/2026), di ruang kerjanya.
Bhagas menjelaskan, semangat kebersamaan selama ini menjadi kekuatan masyarakat Rejowinangun dalam menjaga kondusivitas desa sekaligus mendukung berbagai program pembangunan.
Ia menilai tradisi bersih desa bukan sekadar agenda budaya tahunan, tetapi juga menjadi ruang mempererat hubungan antarmasyarakat, perangkat desa, tokoh agama, hingga para sesepuh desa.
Rangkaian kegiatan bersih desa dimulai pada 25 April 2026 dengan kirab bendera panji yang diikuti warga dan berbagai elemen desa. Kirab tersebut menjadi simbol persatuan sekaligus penghormatan terhadap sejarah dan identitas desa.
Kegiatan kemudian dilanjutkan pada 26 April dengan kenduri massal di balai desa yang dihadiri masyarakat dari berbagai lingkungan. Suasana kebersamaan tampak ketika warga membawa makanan secara sukarela untuk dinikmati bersama.
Selanjutnya, pada 27 April digelar tahlil bersama sebagai bentuk doa untuk keselamatan dan keberkahan desa. Rangkaian kegiatan spiritual diteruskan pada 28 April melalui khotmil Quran di balai desa.
Puncak kegiatan berlangsung pada 29 April dengan pagelaran ruwat murwakala di balai desa sebagai bagian dari tradisi budaya Jawa yang dimaknai sebagai simbol tolak bala dan harapan keselamatan bagi masyarakat.
Tak hanya itu, dalam momentum bersih desa tersebut, kepala desa bersama perangkat desa dan para sesepuh juga melaksanakan nyekar atau tabur bunga serta mengirim doa ke makam para cikal bakal Desa Rejowinangun.
Tradisi itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang dinilai berjasa membuka dan membangun Desa Rejowinangun hingga berkembang seperti saat ini.
Bhagas berharap seluruh rangkaian bersih desa dapat semakin memperkuat rasa persaudaraan masyarakat sekaligus menjaga nilai gotong royong yang selama ini menjadi ciri khas kehidupan warga Desa Rejowinangun.///////










