“Banyuwangi hadir bersama jaringan kota ASCN lainnya untuk saling berbagi praktik baik terkait program Smart City dengan negara ASEAN. Banyuwangi sendiri mengembangkan smart city dengan pendekatan smart village,” ujar Ipuk.
Di hadapan peserta forum, Banyuwangi mempresentasikan sejumlah inovasi, mulai dari pemanfaatan big data, layanan telekonsultasi kesehatan gratis Oasis Wangi yang beroperasi selama 24 jam melalui WhatsApp, hingga sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R).
Ipuk menjelaskan, program pengelolaan sampah tersebut mampu mengolah sampah plastik menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif bagi industri.
“Program ini mampu mengurangi sampah yang tidak terolah lebih lanjut, bahkan juga telah mampu mengelola sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif RDF. Sebanyak puluhan ton RDF tersebut telah dikirim untuk menjadi bahan bakar industri,” katanya.
Sementara melalui layanan Oasis Wangi, masyarakat dapat berkonsultasi mengenai persoalan kesehatan kapan saja tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan.
“Cukup melalui WhatsApp, warga bisa menanyakan berbagai informasi kesehatan secara real time. Juga bisa menerima tips dan edukasi kesehatan secara reguler,” tutur Ipuk.
Ipuk berharap forum ASCN terus menjadi wadah bagi negara-negara ASEAN untuk saling bertukar pengalaman dalam membangun daerah yang cerdas sekaligus berkelanjutan.
“ASCN ini menginspirasi semua anggotanya untuk saling belajar praktik baik bagaimana menciptakan daerah yang tidak hanya smart, namun juga dalam kerangka pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya.////////









